PENGOLAHAN DATA SINGLE BEAM ECHOSOUDER MENGGUNAKAN SOFTWARE HYPACK 2015 (Rian Stadyanto)

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1              Latar Belakang

            Sonar (Sound Navigation And Ranging), merupakan istilah yang pertama kali digunakan pada perang dunia, Sejarah sonar diawali dengan catatan Leonardo da Vinci pada tahun 1490 yang menyatakan "Dengan menempatkan ujung pipa yang panjang didalam laut dan ujung lainnya di telinga, maka dapat mendengarkan kapal-kapal laut dari kejauhan". Berdasarkan catatan ini dapat dipastikan bahwa pada masa tersebut sonar sudah dikenal. Penggunaan  sonar seperti ini disebut dengan Sonar Pasif (Passive Sonar). Dalam perkembangan selanjutnya Paul Langevin pada tahun 1915 menemukan alat sonar pertama untuk mendeteksi kapal selam yang berpengaruh besar dalam desain sonar (Yunizar fahmi //fahmiyunizar.blogspot,2011) cari buku

            Berdasarkan sejarah perkembangan sonar, sonar telah mengalami kemajuan. Demi meningkatkan fungsi kegunaan beserta memanfaatkan perkembangannya diperlukan sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan dalam melakukan kegiatan survei dan pengolahan data hidrografi. Hal ini lah yang mendasari perlunya dilakukan kegiatan pengukuran batimetri. Pengolahan data batimetri didasari oleh beberapa tahapan baik dari segi pengambilan data hingga teknologi yang digunakan. Sistem teknologi pengambilan data aktif yang digunakan yaitu sonar, yang digunakan untuk pengukuran batimetri. Sonar (Sound Navigation And Ranging) berupa sinyal akustik yang diemisikan hingga menghasilkan refleksi balik, yang diterima dari objek dalam air atau dari dasar laut (Parkinson, B.W, 1996). Waktu gelombang akustik bergerak vertical kedasar laut dan kembali yang digunakan untuk mengukur kedalaman air, ini adalah prinsip echosounder (M.albi  //ebycomot,blogspot,2012) cari buku. Perhitungan kedalaman diperoleh dari setengah waktu pemantulan signal echosounder yang terpantul pada dasar laut kemudian kembali ke echosounder. Nilai waktu yang diperoleh dikonversikan dengan kecepatan gelombang suara di dalam air (Varina Larasati //Varina Larasati.blogspot,2012) cari buku.

            Single beam echosounder merupakan alat ukur kedalaman air yang menggunakan pancaran tunggal sebagai pengirim dan penerima sinyal gelombang suara. Single beam echosounder memiliki susunan transciever yang terpasang pada lambung kapal atau sisi bantalan pada kapal. Sistem ini mengukur kedalaman air secara langsung dari kapal survei. Transciever terdiri dari transmitter yang berfungsi sebagai pengontrol panjang gelombang dan penyedia elektris untuk besaran frekuensi yang diberikan (A Muchtarom //amuchtarom51.blogspot,2014) cari buku.

            Dalam tahapan untuk mendapatkan nilai hasil pemeruman yang optimal diperlukan tahapan pengolahan data, dalam tahapan ini diperlukan perangkat lunak yang mampu bersinergi dengan data hasil pemeruman dan data-data pendukungnya. software yang digunakan yaitu software hypack 2015. Software hypack 2015 mampu bersinergi dalam kegiatan pemeruman secara langsung baik dalam pembuatan struktur kapal yang digunakan, penempatan posisi komponen-komponen pengambil data pada kapal, pemrosesan data pemeruman hingga mampu menampilkan data hasil pemeruman. Pembuatan model lajur pemeruman mampu dilakukan pada software hypack. Lajur inilah yang menjadi suatu acuan arah haluan kapal melakukan pemeruman.

           Dalam tahapan pengolahan data pemeruman hypack mampu digunakan untuk  pengoreksian data hingga mengkonversi data untuk mendapatkan nilai koordinat dan kedalaman. Hypack merupakan software yang telah memenuhi standar International Hydrographic Organization (IHO). Dalam pengolahan pada software ini sudah secara terstruktur terdapat berbagai langkah-langkah pengerjaan yang mengikuti ketentuan IHO. Pada keilmuan terapan geodesi pengolahan ini dapat membantu dalam proses pembuatan peta batimetri untuk  kepentingan navigasi, penelitian ilmiah, pembangunan , maupun insfrastruktur.

 

1.2              Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam kegiatan kerja praktek meliputi perencanaan pengukuran batimetri, akuisisi data, pengolahan data, hingga pembuatan peta batimetri

 

1.3              Maksud dan Tujuan Kerja Praktek

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, penulis memiliki maksud dan tujuan dalam pelaksanaan kerja praktek, Maksud dari pelaksanaan kerja praktek ini yaitu mampu menyampaikan proses pelaksanaan pengolahan data batimetri. Dengan tujuan sebagai berikut:

1.         Melakukan proses pengambilan data batimetri

2.         Melakukan proses pengolahan data single beam echosounder menggunakan software hypack 2015.

3.         Menyajikan nilai koordinat dan kedalaman hasil pemeruman

4.         Menghasilkan peta batimetri.

 

1.4              Batasan Masalah

Ruang lingkup dari kegiatan kerja praktek terbatasi pada barbagai perencanaan dan tahapan yang berupa:

1.      Area lokasi perairan Pantai Ancol Jakarta Utara

2.      Luas areal pemeruman berdimensi 1500 meter x 2800 meter.

3.      Jumlah lajur perum sebanyak 138 lajur utama dan 11 lajur.silang.

4.      Alat pemeruman menggunakan single beam echosounder.

5.      Software pengolahan menggunakan hypack 2015

6.      Sistem referensi yang digunakan WGS 1984 zona 48 south

7.      Sistem waktu GMT +07.00


 

1.5              Metodologi

Metodologi yang digunakan dalam kerja praktek dilakukan dengan beberapa tahapan langkah kerja, tergambar dalam diagram alir sebagai berikut:

 


 


 

1.6              Lokasi dan Jadwal Pelaksanaan Kerja Praktek

     Pelaksanaan Kerja Praktek ini dilakukan di DISHIDROS TNI AL Jl. Pantai Kuta V No.1, Ancol Timur, Jakarta Utara, DKI Jakarta (021) 64714810 

Tabel 1.1 Jadwal Kerja Praktek tahun 2016

 

1.7              Gambaran Umum Daerah

Perairan Ancol Teluk Jakarta Utara

Gambar 1.1 Area kerja praktek


 

1.8              Sistematika Penulisan Laporan

Untuk mempermudah penulisan dan penyajian laporan kerja praktek ini maka sistematika penulisan sebagai berikut :

 

Bab I      :  Pendahuluan

     Bab ini membahas secara umum mengenai latar belakang, maksud dan tujuan, batasan masalah, metodologi pekerjaan, lokasi dan jadwal kerja praktek, serta sistematika penulisan laporan.

 

     Bab II    :  Dasar Teori

                        Pada bab ini akan menguraikan tentang teori yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan kerja praktek

 

Bab III  :  Pelaksanaan Kerja Praktek

Pada bab ini membahas mengenai tahapan yang dilakukan dalam pelaksanaan kerja praktek, menguraikan proses pekerjaan yang dimulai dari persiapan kerja praktek dan persiapan lapangan. Persiapan kerja praktek meliputi persiapan nonteknis dan persiapan teknis.

 

Bab IV  :  Pembahasan

Pada bab ini diuraikan tentangkendala-kendala yang terjadi dalam proses pelaksanaan pekerjaan, baik kendala teknis ataupun nonteknis, serta pembahasan hasil dari pengolahan data.

 

Bab V :  Kesimpulan dan Saran

Pada bab ini memuat kesimpulan yang diperoleh dari pelaksanaan pekerjaan dan saran yang membangun untuk jadi lebih baik lagi.


BAB II

DASAR TEORI

 

2.1       Sejarah Dinas Hidro-Oseanografi (Dishidros) TNI AL

Sejarah berdirinya Dishidros diawali dengan dibentuknya panitia perbaikan pemetaan di Netherland East Indies pada tahun 1821. Selang tiga tahun tepatnya pada tahun 1823 Angkatan Laut Belanda mendirikan Depo Peta yang berfungsi sebagai penyedia peta laut dan buku nautis untuk kepentingan umum. Selanjutnya pada tahun 1850, dibentuklah Geografische Dients (Dinas Hidrografi) dibawah kepemimpinan angkatan laut Belanda yang melaksanakan kegiatan pengamatan posisi geografis di berbagai tempat di Indonesia dengan cara pengamatan bintang.

Perang dunia ke-I pada tahun 1914 menyebabkan terjadinya kekurangan personil pada kapal-kapal pemetaan Angkatan Laut Belanda, sehingga pada waktu itu, mulai ditugaskan perwira dari Gouvernement Marine(Jawatan Pelayaran), dan selanjutnya pada tahun 1918 Gouvernement Marine membentuk organisasi yang melaksanakan pemetaanlaut sendiri yang sejak tahun 1922 Gouvernement Marine dapat membantu angkatan laut belanda melaksanakan pemetaan dengan menggunakan kapal sendiri. Dengan demikian sejak itu terdapat dua reganisasi yang melaksankan pemetaaan di Indonesia. Pada periode penjajahan Jepang (1941 – 1945), kegiatan survei dan penelitian dilakukan untuk kepentingan perang pertahanan militer jepang di Indonesia. Pada periode awal kemerdekaan keberadaan kedua organisasi hidrografi pada masa penjajahan belanda tersebut dipertahankan, namun karena pemerintah Indonesia belum memiliki failitas dan personil Hidrografi, maka kegiatan pemetaan mengalami kesulitan, sehingga Negara Belanda pada tahun 1951 memberikan bantuan tenaga ahli hidrografi kepada Indonesia.


 

Mengingat adanya dua kepentingan, yakni kepentingan pelayaran sipil dan kepentingan pertahanan. Beberapa peraturan perundangan yang diberlakukan antara lain.

1.      Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1951 tentang pembentukan Bagian Hidrografi Angkatan Laut dan Bagian Hidrografi Jawatan Pelayaran.

2.      Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 164 Tahun 1960 tentang Penggabungan Pejabatan Hidrografi Jawatan Pelayaran ke dalam Jawatan Hidrografi Angkatan Laut Jawatan Hidrografi Angkatan Laut (Janhidral).

3.      Keputusan Kasal Nomor KEP/20/VII/1997, Tanggal 31 Juli 1997 tentang organisasi dan prosedur Dinas Hidro-Oseanografi (DISHIDROS) TNI AL, menetapkan bahwa Dinas Hidro-Oseanografi (DISHIDROS) TNI AL bertugas membina dan melaksanakan fungsi oseanografi untuk kepentingan TNI maupun kepentingan umum.

Dalam perkembangannya, Jawatan Hidrografi Angkatan Laut mengalami beberapa kali perubahan nama, yaitu berdasarkan Surat Keputusan Menteri Panglima Angkatan Laut (Menpangal) No. 5402.46 Tanggal 20 Desember 1965, Jawatan Hidrografi Angkatan Laut menjadi Direktorat Hidrografi Angkatan Laut (Dithidral). Kemudian berdasarkan keputusan Menhankam atau pangab No. Kep/A/39/VII/1971 Tanggal 23 Juli 1971, menjadi Dinas Hidrografi Angkatan Laut (Dishadral). Selanjutnya berdasarkan keputusan menhankam atau Pangab No. Kep/11/IV/1976 pasal 23, dalam pelaksanaannya sesuai juklak kasal Nomor juklak/40/VIII/1979, Dinas Hidrografi Angkatan Laut berubah menjadi Jawatan Hidro-oseanografi Angkatan Laut (JANHIDROS).


 

Sejak tahun 1984, berdasarkan keputusan Kasal No. Kep/23/XI/1984 Tanggal 10 November 1984, menjadi Dinas Hidro-Oseanografi (DISHIDROS) TNI Angkatan Laut sampai tahun sekarang.Adapun Dinas Hidro-Oseanografi (DISHIDROS) TNI AL  mempunyai tugas melaksanakan kegiatan survey pemetaan laut untuk menetukan jalur pelayaran kapal di perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia, salah satunya adalah penyelenggaraan survey pasang surut air laut yang meliputi pengumpulan data, pengolahan data, penyimpanan data, dan penggunaan informasi berkala. (Praktikum DISHIDROS :Samsul Arifin, 2014).

 

2.2              Batimetri

Batimetri (dari bahasa Yunani bathy, berarti "kedalaman", dan metry berarti "ukuran") adalah ilmu yang mempelajari kondisi di bawah kedalaman air. Sebuah peta batimetri umumnya menampilkan relief permukaan dasar dengan garis-garis kontur (contour lines), dan memiliki informasi tambahan berupa informasi navigasi permukaan. Pada dasarnya batimetri mengacu kepada pengukuran kedalaman samudra. Keterbatasan utama teknik ini adalah hanya dapat melakukan satu pengukuran dalam satu waktu sehingga dianggap tidak efisien. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mengukur kedalaman laut yaitu dengan menggunakan teknik bandul timah hitam (dradloading) dan teknik gema duga atau Echosounder atau Echoloading (Wanda S, Frangky F, Kaparang, Reffry. Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap. Universitas Sam Ratulangi Manado. Manado 2014)

1.    Teknik Bandul Timah Hitam (dradloading)

Teknik ini dilakukan dengan menggunakan tali panjang yang ujungnya diikat dengan bandul timah sebagai pemberat. Dari sebuah kapal tali diturunkan hingga bandul menyentuh dasar laut. Selanjutnya panjang tali diukur dan itulah kedalaman laut. Cara ini sebenarnya tidak begitu tepat karena tali tidak bisa tegak lurus akibat pengaruh arus laut. Di samping itu terkadang bandul tidak sampai ke dasar laut karena tersangkut karang. Cara juga memerlukan waktu lama. Namun cara ini memiliki kelebihan, yaitu dapat mengetahui jenis batuan di dasar laut.

 

2.      Gema duga atau Echosounder atau Echoloading.

Penggunaan teknik ini didasarkan pada perambatan dan pantulan bunyi dalam air. Bunyi yang dikeluarkan dari sebuah peralatan yang dipasang di dasar kapal memiliki kecepatan merambat rata-rata 1600 meter per detik sampai membentur dasar laut. Setelah membentur dasar laut bunyi dipantulkan dalam bentuk gema. Jarak waktu yang diperlukan untuk perambatan dan pemantulan dapat diterjemahkan sebagai kedalaman laut. Cara ini dianggap lebih praktis, cepat dan akurat.

 

2.3              Survei Hidrografi

Survei hidrografi adalah kegiatan terpenting dalam menghasilkan informasi hidrografi, seperti penetuan posisi, pengukuran kedalaman, pengukuran arus, pengukuran sedimen, pengamatan pasut, pengukuran situasi dan garis pantai. Data-data yang diperoleh dari aktifitas-aktifitas tersebut dapat disajikan sebagai informasi dalam bentuk peta. Pemeruman adalah proses dan aktivitas kegiatan survei hidrografi yang ditunjukan untuk memperoleh gambaran bentuk permukaan di dasar laut.  Pemeruman dilakukan dengan pembuatan lajur perum. Lajur perum dapat berbentuk garis-garis lurus, Selain itu survei batimetri dilakukan menggunakan wahana survei, seperti kapal survei yang telah dilengkapi perlengkapan survei hidrografi. Survei hidrografi dalam pelaksanaannya mencakup berbagai kegiatan sesuai data yang diperlukan. (Muhajir Ahmad //Webster, 2004)


 

2.4              Sonar

Sonar merupakan sistem yang memanfaatkan gelombang suara bawah air yang dipancarkan dan dipantulkan untuk mendeteksi dan menetapkan lokasi objek dibawah laut, hingga digunakan untuk mengukur jarak permukaan didasar laut. Perhitungan jarak ditentukan oleh selang waktu yang dibutuhkan saat proses refleksi gelombang tersebut terjadi. (Fajriah //blog.uns,2009).

            Pada prinsipnya mekanisme kinerja sonar yaitu suatu arus listrik dihasilkan oleh sebuah sumber tenaga (power supply), yang dihantarkan melalui bagian-bagian fungsionalnya (functional part), seperti osilator (time base), transmitter,  transducer,  receiver dan display unit. Seluruh komponen tersebut bekerja dua langkah, yaitu langkah pemancaran pulsa sinyal gelombang akustik dan langkah penerimaan pulsa gema  yang dipantulkan oleh objek di bawah air.

Secara garis besar sonar dapat dibedakan atas tiga tipe (Nugraha Pratama Agi //Alamikan.blogspot,2012), yaitu:

1. Tipe sonar berdasarkan transducer:

a. Fixed transducer type sonar : Arah pancaran pulsa selalu tetap vertikal

b. Scanning sonar: Arah pancaran pulsa dapat diputar (scanning) horizontal dan vertikal

c. Search light sonar: Arah pancaran sinyal dapat diubah-ubah menurut train angle ke arah vertikal maupun horizontal.

d. Side sounder: Pancaran pulsa sinyal ke arah samping kapal (kanan-kiri kapal)

e. Net Zounde: Digunakan pada kapal ‘mid water trauler” untuk mengetahui tinggi bukaan mulut jaring.

f. Telesounder: Memancarkan dan meneruskan tampilan data dari suatu pesawat penerima ke pesawat penerima lainnya melalui satelit.


 

2. Tipe sonar berdasarkan tampilan dislpy unit :

a. Dry recording paper : Data yang tersaji pada kertas kering khusus.

  b. Moist recording paper : Data yang tersaji pada kertas kering khusus.

c. Flasher oscilating scope : Sonar berteknologi tinggi. Setiap objek dapat diidentifikasi berdasarkan perbadaan warna pada layer monitor.

d.  Sonar tabir cerlang : Tampilan data berbentuk memori digital.

3. Tipe sonar berdasarkan frekuensi :

a. Low frequency sonar: Menggunakan pancaran pulsa frekuensi rendah.

b. High frequency sonar : Memencarkan pulsa pada frekuensi tinggi.

 

2.4.1    Sinyal Akustik

Akustik kelautan merupakan ilmu yang mempelajari gelombang suara dan perambatannya dalam suatu medium, Sinyal akustik dalam hal ini mediumnya adalah air laut. Dalam perambatannya, Sinyal akustik mengenal adanya transmission loss akibat adanya absorpsi dari medium, yang disebut dengan noise, gangguan yang terjadi dapat berupa faktor fisik maupun biologi (Allo //wordpress.com,2008).          

           

2.5              Echosounder

Echosounder adalah  alat navigasi elektronik dengan menggunakan sistem gema yang dipasang pada dasar kapal yang berfungsi untuk mengukur kedalaman perairan, mengetahui bentuk dasar perairan dan untuk mendeteksi objek dibagian bawah kapal, secara vertical.  Kemudian sistem penguat menimbulkan getaran gema listrik dengan amplitude besar setelah itu getaran ini disalurkan ke suatu sistem petunjuk (indikator) hingga mampu menghasilkan gambar. Sedangkan transmitter menerima gelombang dalam kecepatan yang tinggi, sampai pada orde kecepatan milisekon. Perekaman kedalaman air secara berkesinambungan menghasilkan ukuran kedalaman beresolusi tinggi sepanjang lajur yang disurvei. Frekuensi suara ini tergantung pula dari suhu, kadar garam, dan tekanan air (Muin Hazis // Hazis.blogspot/echosounder pressure,2015).

 

2.5.1    Susunan Echosounder

Rangkaian peralatan Echosounder (perum gema) terdiri dari beberapa komponen (Muin Hazis //Hazis.blogspot.co.id/echosounder pressure.2015), sebagai berikut :

1.   Transmitter : adalah perangkat yang membangkitkan getaran listrik

2.   Oscillator : adalah perangkat pengubah energi listrik menjadi energi akustik.

3.   Amplifier : adalah perangkat pengeras / penguat energi lisrik

4.   Indikator : adalah perangkat untuk mengukur waktu dan penunjuk kedalaman

5.   Recorder : adalah perangkat yang mencatat kedalaman yang diukur pada lajur.

 

2.6            Single Beam Echosounder

   Single beam echosounder merupakan alat ukur kedalaman air yang menggunakan pancaran tunggal   sebagai media pengirim dan penerima sinyal gelombang suara.  Sistem ini mengukur kedalaman air secara langsung dari kapal survei. Range frekuensi yang dipakai pada system ini WHSC Sea-floor Mapping Group mengoperasikan range frekuensi dari 3.5 kHz sampai 200 kHz. Single beam echosounders relatif mudah untuk digunakan, tetapi alat ini hanya menyediakan informasi kedalaman sepanjang garis trek yang dilalui oleh kapal. Jadi, ada feature yang tidak terekam antara lajur. (A Muchtarom //amuchtarom51.blogspot,2014).


 

2.6.1       Komponen Echosounder Single Beam

Echosounder single beam memiliki kompenen-komponen pelengkap dalam menjalankan fungsi kinerjanya dengan baik dan optimal (A Muchtarom //amuchtarom51.blogspot.co.id. 2014), berikut komponen-komponen yang terdapat dalam echosounder single beam:

 

1.    Time base : berfungsi mengaktifkan pemancaran pulsa listrik yang akan dipancarkan oleh transmitter melalui transducer. Suatu perintah  dari  time base  akan  memberikan tanda saat  kapan  pembentuk  pulsa bekerja pada unit transmitter dan receiver (FAO, 1983).

2.    Transmitter : berfungsi  menghasilkan  sinyal  yang  akan  dipancarkan.  Suatu perintah dari kotak pemicu sinyal pada recorder akan memberitahukan kapan pembentuk sinyal bekerja. Sinyal dibangkitkan oleh oscillator kemudian diperkuat oleh power amplifier, sebelum sinyal tersebut disalurkan ke  transducer (FAO,1983).

3.    Transducer : adalah pengubah energi listrik menjadi energi suara ketika suara akan dipancarkan ke medium dan mengubah energi suara menjadi energi listrik ketika echo diterima dari suatu target.  Selain itu fungsi lain dari   transducer   adalah   memusatkan   energi   suara   yang   akan   dipantulkan sebagai beam (MacLennan dan Simmonds, 2005).

4.    Receiver : berfungsi menerima sinyal dari objek kemudian recorder berfungsi sebagai pencatat hasil echo. Sinyal listrik lemah yang dihasilkan oleh transducer harus diperkuat beberapa ribu kali sebelum disalurkan ke recorder. Pada waktu yang bersamaan .Split beam echosounder modern memiliki fungsi Time Varied Gain (TVG). TVG berfungsi secara otomatis untuk mengeliminir pengaruh attenuasi yang disebabkan oleh geometrical sphreading dan  absorpsi  suara  ketika  merambat  di  dalam  air.

5.    Recorder : berfungsi untuk merekam atau menampilkan sinyal echo dan juga berperan sebagai pengatur kerja transmitter dan mengukur waktu antara pemancaran sinyal.

 

Gambar 2.1 Komponen echosonder instalasion

 

2.7         Bar check

Sumber kesalahan yang terjadi dalam pengukuran batimetri biasanya merupakan kesalahan sistematik. Cara yang efektif untuk menjaga ketelitian pemeruman adalah dengan melakukan kalibrasi menggunakan cakra tera (bar check). Kalibrasi ini sangat membantu untuk mendapatkan ukuran kedalaman yang benar akibat beberapa sumber kesalahan. Bar check terbuat dari lempeng logam berbentuk lingkaran atau segi empat yang digantungkan pada tali atau rantai berskala dan diletakkan di bawah transduser. Tali atau rantai berskala dipakai sebagai pembanding hasil pengukuran dengan alat perum gema.

Gambar 2.2 Bar check


 

          Kalibrasi dengan bar check harus dilakukan sebelum dan setelah pemeruman dilakukan pada satu sesi atau satu hari pemeruman. Sebelum pemeruman dilakukan, dipilih suatu kawasan air yang relatif tenang dan dalam dengan kapal yang berhenti untuk kalibrasi awal. Pemilihan lokasi bar check pada air tenang dilakukan agar lempeng logam tidak melayang karena arus, sehingga tetap berada di bawah transduser. Kedalaman tempat kalibrasi juga penting untuk memperoleh kedalaman kalibrasi yang maksimum (Indra Prayogo , Jurnal Peta Laut, 2012).

 

2.8         Software Hypack

Software hypack merupakan suatu sistem perangkat lunak yang mengacu pada ketentuan International Hydrographic Organization (IHO). Software hypack memiliki berbagai versi yang selalu berkembang setiap tahunnya. Software ini memiliki kemampuan dalam mendukung kegiatan survei hidrografi. Software hypack termasuk dalam pendukung kegiatan instalasi komponen pemeruman. software hypack mampu terhubung dengan GPS Real Time Kinematik (RTK) yang bertujuan memberikan informasi maupun memberikan kelengkapan data koordinat suatu posisi yang dilalui. Software hypack pun memiliki hubungan erat dengan proses pengambilan data pemeruman, echosouder akan memberikan nilai kedalaman pada sistem perangkat hypack. Pada software hypack terdapat tools survei, yaitu tools untuk menghubungkan sistem software hypack dengan sistem kerja GPS maupun echosounder.

 

         Gambar 2.3 Logo tampilan software hypack

 

Dalam penggunaan software hypack perlu adanya proses pembuatan file kontruksi wahana kapal, karna perlu adanya singkronisasi antara struktur ukuran kapal survei sebenanya dengan struktur kapal dalam software hypack. Dalam pelaksanaanya pun perlu adanya perencanaan pembuatan lajur, baik lajut utama maupun lajur silang. Pembuatan lajur ini yang mampu menjadi media bernavigasi saat pengambilan data pemeruman. pengambilan data pemeruman harus mengikuti lajur yang telah dibuat. Software hypack mampu melakukakan proses pengkoreksian dan editing data yang memiliki nilai kurang baik.

 

         Gambar 2.4 Tampilan program hypack 2015

BAB III

PELAKSANAAN PEKERJAAN

           

            Pada bab ini berisi tahapan pengolahan data echosounder single beam  menggunakan software hypack 2015. Adapun serangkaian tahapan ini dilakukan untuk mendapatkan nilai kedalaman dan posisi spasial suatu objek penelitian yang akhirnya dapat dituangkan dalam lembar peta batimetri.

3.1              Perencanaan Dan Persiapan Pengambilan Data Survei

Dalam pengambilan data pengukuran perlu adanya perencanaan yang baik dalam penentuan beberapa aspek, baik dari penentuan area, jumlah lajur, instalasi teknologi yang digunakan, hingga software pengolahan data yang digunakan. Pada pelaksanaan kali ini berada pada area teluk jakarta utara. Berikut serangkaian perencanaan survei:

Gambar 3.1. Area pemeruman

 

Dengan koordinat batas areal :

A.  06˚ 07’ 26” S – 106˚  50’ 20” T      

B.  06˚ 06’ 21” S – 106˚  50’ 20” T

C.  06˚ 06’ 21” S – 106˚  51’ 09” T 

D.  06˚ 06’ 00” S – 106˚  51’ 09” T

E.  06˚ 06’ 00” S – 106˚  51’ 32” T

F.  06˚ 07’ 26” S – 106˚  51’ 32” T


 

Dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Area (skala 1:2.000) dengan dimensi area 1500 meter x 2800 meter disurvei menggunakan Sounding Boat Pocca.

2.     Perangkat pengolahan data menggunakan software hypack 2015

3.     Kecepatan rata-rata wahana survei saat pengukuran adalah 4 knot

 

Adapun pelaksanaan pengukuran ditentukan dengan desain lajur berikut :

1. Lajur Utama

Lajur utama didesain tegak lurus garis pantai dengan interval 0,8 x skala yang digunakan. Perhitungan jumlah total lajur dengan menghitung, koordinat sudut atas area perum Eeasting 703496.8) dikurangi sudut kiri bawah area peta (Easting 705719.9) dibagi interval lajur utama. Keterangan detail lajur perum  utama sebagai berikut  :

Interval lajur                           :  16 meter.

Jumlah total lajur utama         :  138 lajur.

Panjang total lajur                   :  235.982 m.

Arah Lajur                              :  Utara-Selatan, Selatan–Utara.

Halu Lajur                              :  000 / 180.

2.     Lajur Silang

Lajur silang didesain tegak lurus arah lajur utama dengan interval 15 x interval lajur utama [IHO; 2008]. Perhitungan jumlah total lajur dengan menghitung, koordinat sudut atas area perum (Northing 9322752) dikurangi sudut kiri bawah area peta (Northing 9325386.48) dibagi interval lajur utama. Keterangan detail spesifikasi lajur perum  utama sebagai berikut dilaksanakan di awal pengukuran kedalaman.

Interval lajur                           :  240 meter.

Jumlah total lajur                    :  11 lajur.

Panjang total lajur                  :  15.554 m.

Arah Lajur                              :  Timur – Barat, Barat – Timur.

Halu Lajur                              :  090 / 270.


 

Adapun spesifikasi yang perlu dipenuhi demi menunjangnya pengoprasian perangkat hypack 2015 agar bekerja secara optimal dalam instalasi perangkat pendukung survei pemeruman maupun pemrosesan data hasil pemeruman.yaitu dengan memenuhi kriteria spesifikasi sebagai berikut:

Tabel 2.1 Spesifikasi Pengoprasian Hypack 2015

Untuk instalasi pendukung yang digunakan pada kapal sebagai wahana pemeruman yaitu:

1.         Perangkat laptop beserta software hypack 2015

2.         Seperangkat GPS RTK Radiolink Trimble R6

3.         Echosounder single beam odom echotrack

 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0zVWv0y-PlpYbXIJTfzbHp249bxjv4VmealT6j9AwDcoDiqUKgNy-woTI8YzMk_1rxMpl8McFrxZOWdPkE1nIg2_wZufYkzszHFuJVgepu4e89Kgafu8R4ME17m22RjwNx0JT3zSE4fN6/s1600/xj5kda6w.jpg

Gambar 3.2 Instalasi wahana

 

3.1.1         Pembuatan Lajur Pemeruman

Sebelum memulai pembuatan lajur utama dan lajur silang disiapkan peta dasar wilayah penelitian yang sudah teregistrasi oleh software globalmapper dengan koordinat yang benar. Kemudian input peta raster yang sudah memiliki nilai koordinat kedalam software hypack 2015 dengan tahapan dibawah ini :

 

1.        Klik kanan Project File => Background File

 


Gambar 3.3 Add File Background

 

Pada tahapan ini terdapat berbagai format yang dapat digunakan sebagai background dari latar tampilan. Pada kegiatan kali ini menggunakan tampilan background berformat S57 File.

2.   Pada tahap selanjutnya pembuatan lajur diperlukan untuk mensinergikan pengambilan data sesuai dengan konsep perencanaan yang sudah ditentukan.

a.              Preparation =>Editor =>Line Editor

Gambar 3.4 Pembuatan lajur manual

 

Tahapan line editor ini difungsikan untuk membuat lajur secara manual dengan memasukkan nilai koordinat area yang sudah diketahui nilainya. Gunakan add point

 

Gambar 3.5. Add point koordinat area

Gambar 3.6 Output area

 

b.    Tahapan berikutnya yaitu dengan pembuatan lajur utama.  Dengan menggunakan Parallel Line. Offset => Parallel, Dalam tahapan ini perlu adanya penyesuaian dengan perencanaan lajur, jumlah lajur utama 138 jarak interval antar lajur 16 meter.

 


Gambar 3.7 Parallel line offset


 

c.    Kemudian pembuatan lajur silang dapat dilakukan dengan Parallel Line. Offset => Center Line. jumlah lajur silang 11 jarak interval antar lajur 240 meter

 


Gambar 3.8 center line offset cross

 

Setelah proses ini dilakukan maka pada layar tampilan akan terlihat tampilan lajur seperti berikut

 


Gambar 3.9 Tampilan lajur pemeruman


 

3.1.2        Instalasi Wahana Pemeruman

Dalam pengukuran perlu dilakukan instalasi wahana agar terjalin hubungan pada setiap komponen teknologi yang digunakan. Wahana utama yang digunakan yaitu perahu survei poca sebagai media transportasi dan untuk penempatan GPS dan perangkat lainnya. Perangkat selanjutnya yaitu GPS RTK radiolink trimble R6 yang perlu dihubungkan dengan software hypack 2015, begitu pula dengan penempatan GPS RTK tersebut perlu adanya penyesuaian.

 


Gambar 3.10 Instalasi Wahana

          

Adapun tahapan dalam menyingkronkan posisi stiap komponen terhadap software, dengan cara sebagai berikut :

1.   Preparation =>Hardware

2.   Pastikan semua hardware terkoneksi dengan hypack yaitu GPS dan Echosounder, lalu setting semua posisi alat sesuai posisi di wahana kapal.

3.   Apabila belum terhubung maka klik Add Device lalu input hardware yang akan dihubungkan.

4.   Kemudian melakukan pembuatan Boat Shape wahana kapal.

Preparation => Editors => Boat Shape Editor

5.   File =>New Shape

6.   Input manual ukuran kapal dan point posisi GPS dan tranducer.

Gambar 3.11 Vesel Editor

 

Setelah kontruksi kapal pada software hypack 2015 telah disesuaikan dengan kontruksi kapal sebenarnya. Maka perlu dilakukannya kalibrasi echosounder barcheck. Kalibrasi dilakukan dengan cara masukan lempengan besi pemberat dengan tali yang sudah diukur untuk memastikan nilai kedalaman pada alat tranducer sama atau tidak, jika sama berarti pengaturan alat sudah benar dan siap digunakan survei.

Gambar 3.12  Kalibrasi barcheck


 

Setelah semua persiapan alat dilakukan, proses berikutnya adalah pelaksanaan Survei Bathimetri. prosedur yang harus dilakukan saat akan memulai survei yaitu dengan :

1.   Klik Survey => Survey

Menampilkan file jalur yang sudah kita buat tadi ke dalam Survei.

2.   Masukkan Bentuk dan Ukuran Boat

a.    Vessels => Boat

b.    Masukkan jejak kapal

c.    Set skala = 1, untuk ukuran normal sesuai file

d.   Set warna kapal dan jejak-nya

e.    Ok

3.    Masukkan Jalur Survey. Line => Select File

a.    Setting Orientasi.

b.    Settings => Tracking/Orientation

c.    Pengaturan Parameter Navigasi Options =>Navigation Parameters (Manual atau otomatis sesuai yang dibutuhkan)

d.   Untuk pengaturan konfigurasi Data Display.

Configure from data display(1) => Add data yang ingin ditampilkan

e.    Untuk Memulai Logging dan Mengakhiri Logging

f.     Logging =>Start Logging          

g.             Logging =>End Logging atau dengan tools


 

3.2       Akuisisi Data

            Akuisisi data adalah tahapan dalam pengambilan data lapangan yang sebelumnya telah melalui serangkaian tahapan perencanaan dan instalasi wahana, sehingga semua komponen dapat bekerja bersama secara optimal. Pelaksanaan pekerjaan pengambilan data ini di sebut pemeruman. Wahana yang berupa kapal dilengkapi dengan GPS RTK yang tegak lurus dengan posisi tranducer mampu mendapatkan posisi dari pergerakan kapal yang sudah ditentukan arahnya, dengan pembuatan lajur di perencanaan awal yang sudah tampil pada layar perangkat komputer, begitu pula dengan didapatkannya data nilai kedalaman dari alat teranducer single beam echosounder.

Pemeruman dilaksanakan tertanggal 6 - 16  November 2016, dapat dikatakan selama sepuluh hari.data yang dihasilkan berformat .raw data. Raw data ini dapat diproses menggunakao perangkat lunak tersebut.Selain data pemeruman. diperlukan pula data pengamatan pasut selama pengukuran berlangsung, begitu pula data surutan yang dihasilkan.

Gambar 3.13  Pemeruman dan pengamatan pasut


 

Raw data yang dihasilkan dari pemeruman selama enam hari adalah sebagai berikut:

Gambar 3.14  Data base .RAW data

 

3.3      Pengolahan Data

Pada pemrosesan data diperlukan input data pasut secara manual dengan menyertakan waktu pengukuran dan pengamatan pasut secara singkron (dalam waktu yang sama) beserta nilai surutan yang didapatkan  dari perhitungan pasut surutan.

1.    Melakukan penyesuaian sistem referensi dan zona dalam geodetic parameter

 


Gambar 3.15 Geodetic Parameter

Gambar 3.16 Geodetic Parameter reference

 

2.        Masukan semua Raw data hasil survei.

a.       Klik Kanan Raw Data File => Add File and Copy

 


Gambar 3.17 Input data manual


 

3.    Masukkan data pasut cara manual.

a.    Processing =>Tides =>Manual Tides.

 


Gambar 3.18 Input manual tide

 

b.       Masukkan waktu dan koreksi pasut


Gambar 3.19 Korection file

 

c.       File => Save As => Beri Nama => Ok => Exit


 

4.        Masukan semua Raw data hasil survei.

a,   Klik Kanan Raw Data File => Add File and Copy

b.      Pilih beberapa file yang baik datanya => Open

Gambar 3.20 Tampilan data

 

5.        Processing => Single Beam Editor. Pada tahapan ini akan dilakukan pengolahan data yang didapat dari pemeruman echsouder single beam sebelumnya.

 


Gambar 3.21  Single Beam Editor.


 

6.        Masukan data hasil pemeruman yang akan diolah dengan Open Raw data => Select Al . Data masukkan yang diolah dibuka berdasarkan tertanggal pelaksanaannya

Gambar 3.22 Open Raw data

 


Gambar 3.23 Input Raw data

 

7.        Input koreksi pasut yang sebelumnya di save => Open File =>Use Depth 2=>Ok . Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkombinasikan sekaligus pengkoreksian antara data hasil akuisisis pemeruman dengan data akuisisi surutan.

Gambar 3.24 Tampilan Inputing korection

 

8.        Tab Selection. Tahapan ini berguna dalam menyesuaikan alat pemeruman yang digunakan, sistem referensi, hingga cara masukan data tide  secara manual atau yang sudah ada.

 


Gambar 3.25 Tampilan Tab Selection

 

9.        Tab Survey Info. Masukan semua info mengenai projek survei. Dari nama projeck yang sudah dibuat, boat file, area pemeruman, nama surveyor , hingga ellipsoid referensi yang digunakan

Gambar 3.26 Tampilan Tab Offset

 

10.    Advanced Menu. Seting dan pilih kolom RTK tide

 

Gambar 3.27 Tampilan Advanced

 

11.    Lalu klik OK, akan terlihat program memproses masukan data

 

Gambar 3.28  Proces loading input data

12.    Akan tampil grafik data gelombong nilai kedalaman yang kemudian akan diolah (presort grafick).

 

Gambar 3.29 Tampilan tab presort grafick

 

13.    Untuk proses pengolahan data dengan proses editing, Cari bentuk profil yang sekiranya kurang baik, kemudian kita hapus dengan menggunakan eraser, setelah itu kita lakukan penghalusan atau smoothing, lalu kita simpan hasil editing tersebut. Gunakan survey windows untuk melihat posisi data yang kita akan perbaiki.

 

Gambar 3.30 Tampilan Survey Windows

14.    Lakukan proses eraser ini di sepanjang jalur survei dalam satu file. Setelah satu file selesai, lakukan juga untuk file-file yang berikutnya sampai tuntas. Gunakan tombol panah untuk pindah ke file berikutnya.

 


Gambar 3.31 After eraser

 

Gambar 3.32 Eraser Proces

 

15.  Selain dengan menghapus data grafik yang kurang baik tahapan selanjutnya bisa dilakukan dengan memperhalus grafik tersebut menggunakan smoothing. Smoothing dapat dilakukan perlajur maupun pada semua lajur.

 

Gambar 3.33 Smoothing Proces

 

16.    Tahap berikutnya yaitu tab spreadsheet yang terdapat pada option, dalam tahapan ini akan terdapat pengaturan penyesuaian sistem referensi yang digunakan terhadap pemeruman agar memiliki kaitan dengan koordinat suatu posisi yang telah diketahui nilai kedalamannya. Spreadsheet akan menampilkan hasil bacaan dari tabel keterangan hasil koordinat, waktu, nilai kedalaman, sampai jumlah data kedalaman yang ter-record.

 

Gambar 3.34 Spreadsheet

17.    Setelah pengolahan pada single beam editor telah terselesaikan pada setiap folder waktu pelaksanaan. Lakukan save all data dengan format .EDT dan lakukan add file pada edited data file dengan memasukkan data yang sebelumnya sudah tersimpan dalam format .EDT.

 

Gambar 3.35 Add file

 

Gambar 3.36 File data format EDT

 

Gambar 3.37 Tampilan data edit single beam

 

18.    Karena data kedalaman antar titik masih terlalu rapat, lakukan sortir untuk merenggangkan beberapa meter.

a.    Processing => Sounding Selection => Sort. Kemudian lakukan Sort data dari Depth1 ke dalam radius 10 m (angka radius tergantung data)

 


Gambar 3.38 Sort

 

Gambar 3.39 Tampilan Sort setting

 

b.      Sort Data, dan matikan Edit Data

 


Gambar 3.40 Hasil sort data

19.    Tahapan selanjutnya pembuatan kontur kedalaman menggunakan Final Products => Tin Model

 

Gambar 3.41 TIN Model

 

a.       Buat project file baru kemudian input file data sort yang memiliki nilai koordinat dan kedalaman, dengan cara New File => Main Input File

 


Gambar 3.42 Main input file

 

b.      Kemudian pada menu Export pilih format DXF kemudian akan tampil tampilan sebagai berikut, lengkapi dengan pilihan output kontur akan berupa 2D atau 3D model , tentukan pula jarak nominal angka nilai interval pada garis kontur, dan tentukan pula lokasi penyimpanan data kontur TIN model.

Gambar 3.43 Seting kontur DXF

 


Gambar 3.44 Hasil kontur DXF

 

20.    Untuk analisis selanjutnya data dianggap baik maka tahapan selanjutnya ialah export data ke software lain yaitu ke dalam format dwg untuk proses editing dan layout lainnya.

a.          Final Product => Export

b.         Output dengan Format DXF.

c.    


Pilih Folder penyimpanan => Convert

Gambar 3.45 Exsport product

 

3.4  Penyajian Peta Batimetri

Dalam penyajian peta batimetri di perlukan data yang sudah melewati tahapan pengolahan data pada software hypack. Data yang digunakan untuk pembuatan peta batimetri perlu adanya penyesuaian format data dikarenakan pembuatan lembar peta dilakukan pada software Arc Gis 10. Tahapan pemindahan data dari software hypack ke Arc Gis 10, yaitu dengan melakukan export data. Data yang dipilih yaitu data point koordinat beserta kedalaman, dan data kontur kedalaman. Data di exsport dalam bentuk format DXF. Tahapan dilakukan seperti berikut:

1.      Input data => Option Label (tampilkan nilai koordinat dan hilangkan simbol).

2.      Atribut table => New Fild (buat kolom untuk tampilan interval kontur).

3.      Field calculator => Tentukan interval dalam satuan centimeter => Categori (pilih field interval) => lakukan setting pada pengaturan label.

4.      Lakukan pembuatan legenda dengan fasilitas menu insert.

5.      Hasil peta disajikan dalam format .pdf.

6.      Penentuan skala disesuaikan dengan perencanaan pengukuran batimetri yaitu skala 1: 2000.

7.      Ukuran lembar peta disesuaikan menjadi berukuran A0.

8.      Cakupan area masih terlampau luas sehingga tidak dapat digambarkan dalam selembar peta..

9.      Jumlah lembar peta sebanyak dua lembar.

 

Gambar 3.46 Peta batimetri lembar 1

 

Gambar 3.47 Peta batimetri lembar 2

 BAB IV

PEMBAHASAN DAN HASIL

 

4.1              Perencanaan Pengambilan Data Survei

Dalam pengukuran batimetri perlu adanya perencanaan yang matang dalam menentukan pekerjaan apa saja yang perlu diperhatikan. Pada kegiatan kerja praktek ditentukan nilai koordinat sebagai batasan area lajur pemeruman. Pembuatan lajur dibuat dengan perhitungan 0.8 (berasal dari konstanta yang telah ditetapkan) dikalikan skala yang digunakan 1:2000 menghasilkan 1600 cm (16 m).  Sedangkan untuk lajur utama dibuat sebanyak 138 lajur dengan interval 16 meter, panjang total lajur 235.982 m. Kemudian untuk lajur silang  sebanyak 11 lajur dengan interval 240 meter, panjang total lajur 15.554 m.

 

Gambar 4.1 Lajur perum

 

Perlengkapan yang digunakan yaitu kapal Pocca yang berfungsi sebagai media transportasi dan tempat pemasangan peralatan pendukung dalam pengukuran batimetri. Dengan kecepatan rata-rata wahana ditentukan sebesar 4 knot (20.6 m/detik). Untuk penempatan GPS RTK Radiolink Trimble R6 dipasang tegak lurus dengan echosounder single beam odom echotrack, untuk perangkat komputerisasi dilengkapi dengan laptop beserta software hypack 2015.

 

Image result for pemasangan alat pemeruman

Gambar 4.2 Kontruksi pemasangan peralatan survei

 

Pada tahapan selanjutnya diperlukan Barcheck kalibrasi terhadap nilai kedalaman sementara. Barcheck kalibrasi memiliki fungsi sebagai pengkoreksi kesalahan yang terdapat pada echosounder. Terdapat persyaratan yang harus terpenuhi yaitu air harus dalam kondisi tenang, dalam satu area, dan selang waktu yang sama, Dalam pelaksanaannya Barcheck kalibrasi dilaksanakan pada area reklamasi karna memiliki kondisi permukaan air yang lebih tenang. Interval nilai kedalaman pada untaian tali Barcheck sebesar satu meter.

 

Gambar 4.3 Interval Barcheck

 

Penggunaan software hypack dipilih karna software ini mampu bersinergi dengan peralatan pemeruman, seperti pada GPS dan komponen- komponen echosounder. Software hypack dapat digunakan saat pelaksanaan pekerjaan maupun saat pengolahan data, hypack memiliki format data yang mendukung pada software lainnya.

 

 

4.2              Akuisisi Data

Akuisisi data dilaksanakan tertanggal 6 - 16  November 2016, waktu pengukuran dilakukan pada jam 09,00 sampai 16.00 WIB, dapat dikatakan berlangsung selama sepuluh hari. Data yang dihasilkan berformat .raw data. Jumlah data yang dihasilkan berjumlah 7525. Data dikelompokan berdasarkan waktu survei.

 

Gambar 4.4 File data

 

Selain dari data pemeruman diperlukan data hasil pengamatan pasang surut selama pemeruman berlangsung. Dari pengamatan pasang surut tersebut didapatkan nilai surutan yang nantinya akan dimasukkan pada tahapan pengolahan data, pada tahapan pengolahan data nilai surutan akan diubah dalam format .Tide data.

Gambar 4.5 Tide data

 

4.3              Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan menggunakan software hypack 2015. Diawali dengan pembuatan project baru. Project diberi nama dan tanggal sesuai kegiatan pelaksanaan pengolahan, dengan maksud dapat menginventariskan data secara baik dan benar. Kemudian perlu pula adanya penyesuaian sistem referensi dan zona area menggunakan geodetic parameter. Sistem referensi yang digunakan WGS 84 zone 48 South.

 

Gambar 4.6 Geodetic parameter

 

Pada pengolahan data diperlukan input .raw data pengukuran dan data pasut surutan, dengan menyertakan waktu pemeruman dan pengamatan pasut secara singkron (dalam waktu yang sama). Tahapan selanjutnya yaitu pengkoreksian grafik kedalaman, berdasarkan file raw data dan tide data, raw data dibuat dalam  file sesuai waktu pelaksanaan. Kemudian masukan nilai tide data.

Gambar 4.7 Tide data

 

Gambar 4.8 Rar file data

 

Memasukan tide data pada tahap awal dilakukan secara manual. Kemudian di save dalam format tide data. Tahapan pengkombinasian data dilakukan pada menu Use Depth kemudian masukan nilai tide data pada inputing korection.

Gambar 4.9 Inputing korection

 

Selanjutnya pada menu single beam edittor terdapat beberapa tahapan yang harus di lengkapi, seperti:

1.      Tab selection: tahapan ini berguna dalam menyesuaikan peralatan pemeruman, pada tab selection di pilih untuk device  echosounder, heading GPS, tide manual entry on survey, navigation  GPS

2.       Tab Survey Info berguna dalam memberikan keterangan lokasi survei dipilih Ancol, Surveyor Rian stadyanto, ellipsoid WGS 84, boat pocca, project UTM survei KP

3.      Advanced Menu berguna menentukan tipe GPS yang terhubung saat survei, dipilih GPS RTK

 

Gambar 4.10 Survei info

 

                 Untuk proses pengolahan data dengan proses editing, Cari bentuk profil yang kurang baik, kemudian kita hapus dengan menggunakan eraser, setelah itu kita lakukan penghalusan atau smoothing, lalu kita simpan hasil editing tersebut. Gunakan survey windows untuk melihat posisi data yang kita akan perbaiki. Jumlah data presort grafik sebanyak 304 file data.

 

Gambar 4.11 Presort grafik

 

 

 

 

Pada pengeditan grafik presort tahapan berikutnya yaitu menyimpan hasil editing data dalam format EDT. Format inilah yang selanjutnya akan diubah kembali dalam format x,y,z. Dengan cara menginput data tersebut dalam tin model. Jumlah data EDT sebanyak 304 file data.

Gambar 4.12 EDT to X.Y.Z

 

Setelah pengolahan data telah terpenuhi maka file-file data yang sudah dihasilkan dapat kita tampilkan pada layer raw data file, edited data file, sorted data file, dan project data file. Hingga mampu menghasilkan sebaran titik seperti pada gambar

Gambar 4.13 Tampilan data

 

 

Karna jumlah data terlalu banyak, dilakukanlah proses sortir data dengan menggunakan menu sort data. Hasil sortir data menghasilkan 542 data. Sortir ini hanya dapat dilakukan pada format data yang telah memiliki nilai koordinat dan kedalaman,

 

Gambar 4.14 Sort data

 

Pembuatan kontur dilakukan dengan menggunakan TIN model. Dalam tahapannya memerlukan pengaturan interval, interval yang digunakan interval 1 meter.

Gambar 4.15 Pembuatan Kontur

 

 

 

4.4              Penyajian Peta Batimetri

Dalam pembuatan tahap akhir penyajian peta terdapat tahapan layouting atau pembuatan tampilan muka lembar peta beserta legenda peta yang menyertainya. Pembuatan layout peta menggunakan bantuan software Arc Gis 10. Dasar isi peta bersumber dari hasil data pengolahan pada software hypack pada tahap sebelumnya, dengan exsport file format DXF.

 

Gambar 4.16 Peta batimetri lembar 1

 

Gambar 4.17 Peta batimetri lembar 2

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

5.1                                                  Kesimpulan

Kesimpulan hasil dari pengolahan data pengukuran batimetri menggunakan software hypack 2015, yaitu kondisi data yang lebih baik dari kondisi data sebelum terjadi pengkoreksian, baik dari pengkoreksian grafik sinyal akustik, kerapihan dan kesesuaian kondisi data, hingga mampu menyajikan peta batimetri yang memiliki nilai koordinat suatu posisi dan nilai kedalaman suatu permukaan.

1.      Cakupan pembuatan lajur perum baik dari interval maupun jumlah lajur. sudah memenuhi kriteria terlihat pada data yang tercover, Lajur utama sebanyak 138 lajur dengan interval 16 meter, panjang total lajur 235.982 m. Sedangkan untuk lajur silang 11 lajur dengan interval 240 meter, panjang total lajur 15.554 m.

2.      Pengolahan data menggunakan software hypack 2015. Dalam skala 1: 2000 dihasilkan jumlah data titik koordinat dan kedalaman sejumlah 7526 hingga tersortir sebanyak 542 data. Diketahui  pada data, nilai kedalaman minimum 25 cm dan.nilai kedalaman maksimum 6.2 m.

3.      Lokasi yang memiliki kedalaman minimum berada pada nilai koordinat  X = 703760.00 dan Y= 9323340.00. sedangkan Lokasi yang memiliki kedalaman maksimum berada pada nilai koordinat  X = 703560.00 dan Y= 9324720.00.

4.      Pembuatan kontur kedalaman dibuat dengan interval satu meter menyesuaikan dengan skala peta.

5.      Pembuatan layout peta menggunakan software Arc Gis 10. Pada legenda peta berisikan judul peta, arah utara, Skala peta, sistem referensi koordinat, indeks peta, dan keterangan arti simbologi yang terdapat pada isi peta.

5.2                                                  Saran

1.      Pada setiap sebelum kegiatan berlangsung diharapkan memiliki perencanaan dan persiapan yang matang baik dari segi mental, kesehatan hingga teknologi yang digunakan.

2.      Kelengkapan data dalam pengambilan data perlu diperhatikan begitu pula dengan waktu dan kondisi yang mempengaruhinya perlu dicatat secara khusus sebagai berita acara pelaksanaan survei.

3.      Pengolahan data perlu dilakukan dengan teliti dan selalu disimpan setiap terjadi perubahan.


Komentar