BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Sonar (Sound Navigation And Ranging), merupakan istilah yang pertama kali digunakan pada perang dunia, Sejarah sonar diawali dengan catatan
Leonardo da Vinci pada tahun
1490 yang menyatakan "Dengan menempatkan ujung pipa yang panjang didalam laut dan ujung lainnya
di telinga, maka dapat mendengarkan kapal-kapal laut dari kejauhan". Berdasarkan catatan ini dapat dipastikan bahwa pada masa tersebut sonar sudah dikenal. Penggunaan sonar seperti ini disebut dengan Sonar Pasif
(Passive Sonar). Dalam perkembangan selanjutnya Paul
Langevin pada tahun 1915 menemukan alat sonar pertama untuk mendeteksi kapal selam yang berpengaruh besar dalam desain sonar (Yunizar fahmi //fahmiyunizar.blogspot,2011)
cari buku
Berdasarkan sejarah perkembangan sonar, sonar telah mengalami
kemajuan. Demi meningkatkan fungsi kegunaan beserta memanfaatkan
perkembangannya diperlukan sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan dalam
melakukan kegiatan survei dan pengolahan data hidrografi. Hal ini lah yang
mendasari perlunya dilakukan kegiatan pengukuran batimetri. Pengolahan
data batimetri didasari oleh beberapa tahapan baik dari segi pengambilan data
hingga teknologi yang digunakan. Sistem
teknologi pengambilan data aktif yang digunakan yaitu sonar, yang digunakan untuk pengukuran
batimetri. Sonar (Sound Navigation And
Ranging) berupa sinyal akustik yang diemisikan hingga menghasilkan refleksi balik, yang diterima dari objek dalam
air atau dari dasar laut (Parkinson,
B.W, 1996). Waktu gelombang akustik bergerak vertical kedasar laut dan kembali
yang digunakan untuk mengukur kedalaman
air, ini adalah prinsip echosounder (M.albi //ebycomot,blogspot,2012) cari buku. Perhitungan kedalaman diperoleh dari setengah waktu pemantulan signal
echosounder yang terpantul pada dasar laut kemudian kembali ke echosounder. Nilai waktu yang diperoleh dikonversikan dengan kecepatan gelombang suara di dalam air (Varina Larasati //Varina Larasati.blogspot,2012) cari buku.
Single beam echosounder merupakan alat ukur kedalaman air yang menggunakan
pancaran tunggal sebagai pengirim dan penerima sinyal gelombang suara. Single beam echosounder memiliki susunan transciever
yang terpasang pada lambung kapal atau sisi bantalan pada kapal. Sistem ini
mengukur kedalaman air secara langsung dari kapal survei. Transciever terdiri dari transmitter
yang berfungsi
sebagai pengontrol panjang gelombang dan penyedia elektris untuk besaran frekuensi yang diberikan (A Muchtarom //amuchtarom51.blogspot,2014) cari buku.
Dalam tahapan untuk mendapatkan
nilai hasil pemeruman yang optimal diperlukan tahapan pengolahan data, dalam
tahapan ini diperlukan perangkat lunak yang mampu bersinergi dengan data hasil
pemeruman dan data-data pendukungnya. software
yang digunakan yaitu software hypack
2015. Software hypack 2015 mampu
bersinergi dalam kegiatan pemeruman secara langsung baik dalam pembuatan
struktur kapal yang digunakan, penempatan posisi komponen-komponen pengambil
data pada kapal, pemrosesan data pemeruman hingga mampu menampilkan data hasil
pemeruman. Pembuatan model lajur pemeruman mampu dilakukan pada software hypack. Lajur inilah yang
menjadi suatu acuan arah haluan kapal melakukan pemeruman.
Dalam tahapan pengolahan data pemeruman hypack mampu digunakan untuk
pengoreksian data hingga mengkonversi data untuk mendapatkan nilai
koordinat dan kedalaman. Hypack
merupakan software yang telah
memenuhi standar International Hydrographic
Organization (IHO). Dalam pengolahan pada software ini sudah secara terstruktur terdapat berbagai langkah-langkah
pengerjaan yang mengikuti ketentuan IHO. Pada keilmuan terapan geodesi
pengolahan ini dapat membantu dalam proses pembuatan peta batimetri untuk kepentingan navigasi, penelitian ilmiah,
pembangunan , maupun insfrastruktur.
1.2
Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam kegiatan kerja praktek meliputi perencanaan pengukuran
batimetri, akuisisi data, pengolahan data, hingga pembuatan peta batimetri
1.3
Maksud dan Tujuan Kerja Praktek
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah
dikemukakan, penulis memiliki maksud dan tujuan dalam pelaksanaan kerja praktek, Maksud dari
pelaksanaan kerja praktek ini yaitu mampu menyampaikan
proses pelaksanaan pengolahan data batimetri. Dengan tujuan sebagai berikut:
1.
Melakukan
proses pengambilan data batimetri
2.
Melakukan
proses pengolahan data single beam
echosounder menggunakan software
hypack 2015.
3.
Menyajikan
nilai koordinat dan kedalaman hasil pemeruman
4.
Menghasilkan
peta batimetri.
1.4
Batasan Masalah
Ruang lingkup dari kegiatan kerja praktek terbatasi pada barbagai perencanaan dan
tahapan yang berupa:
1.
Area
lokasi perairan Pantai Ancol Jakarta Utara
2.
Luas
areal pemeruman berdimensi 1500 meter x 2800 meter.
3.
Jumlah
lajur perum sebanyak 138 lajur utama dan 11 lajur.silang.
4.
Alat
pemeruman menggunakan single beam echosounder.
5.
Software
pengolahan menggunakan hypack 2015
6.
Sistem
referensi yang digunakan WGS 1984 zona 48 south
7.
Sistem
waktu GMT +07.00
1.5
Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam kerja praktek dilakukan dengan beberapa tahapan langkah kerja, tergambar dalam diagram alir sebagai
berikut:

1.6
Lokasi dan Jadwal Pelaksanaan Kerja Praktek
Pelaksanaan Kerja Praktek ini dilakukan di DISHIDROS
TNI AL Jl. Pantai Kuta V
No.1, Ancol Timur, Jakarta Utara, DKI Jakarta (021)
64714810
Tabel 1.1 Jadwal Kerja
Praktek tahun 2016

1.7
Gambaran
Umum Daerah
Perairan Ancol Teluk Jakarta Utara

Gambar 1.1 Area kerja
praktek
1.8
Sistematika
Penulisan Laporan
Untuk mempermudah penulisan dan penyajian laporan kerja praktek ini maka sistematika penulisan sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan
Bab ini membahas secara umum mengenai latar belakang, maksud dan tujuan,
batasan masalah, metodologi pekerjaan, lokasi dan jadwal kerja praktek, serta
sistematika penulisan laporan.
Bab II : Dasar Teori
Pada bab ini akan menguraikan tentang teori yang
berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan kerja praktek
Bab III : Pelaksanaan Kerja Praktek
Pada
bab ini membahas mengenai tahapan yang dilakukan dalam pelaksanaan kerja
praktek, menguraikan proses pekerjaan yang dimulai dari persiapan kerja praktek dan persiapan lapangan.
Persiapan kerja praktek meliputi persiapan nonteknis dan persiapan teknis.
Bab IV : Pembahasan
Pada
bab ini
diuraikan tentangkendala-kendala yang terjadi dalam proses pelaksanaan pekerjaan, baik kendala teknis ataupun nonteknis, serta
pembahasan hasil dari pengolahan data.
Bab V : Kesimpulan dan Saran
Pada bab ini memuat
kesimpulan yang diperoleh dari pelaksanaan pekerjaan
dan saran yang membangun untuk jadi lebih baik lagi.
BAB
II
DASAR
TEORI
2.1 Sejarah Dinas
Hidro-Oseanografi (Dishidros)
TNI AL
Sejarah
berdirinya Dishidros
diawali dengan dibentuknya panitia perbaikan pemetaan di Netherland East Indies
pada tahun 1821. Selang tiga
tahun tepatnya pada tahun 1823 Angkatan Laut Belanda mendirikan Depo Peta yang
berfungsi sebagai penyedia peta laut dan buku nautis untuk kepentingan umum.
Selanjutnya pada tahun 1850, dibentuklah Geografische
Dients (Dinas Hidrografi) dibawah kepemimpinan angkatan laut Belanda yang
melaksanakan kegiatan pengamatan posisi geografis di berbagai tempat di
Indonesia dengan cara pengamatan bintang.
Perang
dunia ke-I pada tahun 1914
menyebabkan terjadinya kekurangan personil pada kapal-kapal pemetaan Angkatan
Laut Belanda, sehingga pada waktu itu, mulai ditugaskan perwira dari Gouvernement Marine(Jawatan Pelayaran),
dan selanjutnya pada tahun 1918 Gouvernement
Marine membentuk organisasi yang melaksanakan pemetaanlaut sendiri yang
sejak tahun 1922 Gouvernement Marine
dapat membantu angkatan laut belanda melaksanakan pemetaan dengan menggunakan
kapal sendiri. Dengan demikian sejak itu terdapat dua reganisasi yang
melaksankan pemetaaan di Indonesia. Pada periode penjajahan Jepang (1941 –
1945), kegiatan survei
dan penelitian dilakukan untuk kepentingan perang pertahanan militer jepang di
Indonesia. Pada periode awal kemerdekaan keberadaan kedua organisasi hidrografi
pada masa penjajahan belanda tersebut dipertahankan, namun karena pemerintah
Indonesia belum memiliki failitas dan personil Hidrografi, maka kegiatan
pemetaan mengalami kesulitan, sehingga Negara Belanda pada tahun 1951 memberikan bantuan
tenaga ahli hidrografi kepada Indonesia.
Mengingat
adanya dua kepentingan, yakni kepentingan pelayaran sipil dan kepentingan
pertahanan. Beberapa peraturan
perundangan yang diberlakukan antara lain.
1. Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1951 tentang pembentukan Bagian
Hidrografi Angkatan Laut dan Bagian Hidrografi Jawatan Pelayaran.
2. Keputusan
Presiden Republik Indonesia Nomor 164 Tahun 1960 tentang Penggabungan Pejabatan
Hidrografi Jawatan Pelayaran ke dalam Jawatan Hidrografi Angkatan Laut Jawatan
Hidrografi Angkatan Laut (Janhidral).
3. Keputusan
Kasal Nomor KEP/20/VII/1997, Tanggal 31 Juli 1997 tentang organisasi dan
prosedur Dinas Hidro-Oseanografi (DISHIDROS) TNI AL, menetapkan bahwa Dinas
Hidro-Oseanografi (DISHIDROS) TNI AL bertugas membina dan melaksanakan fungsi oseanografi untuk
kepentingan TNI maupun kepentingan umum.
Dalam perkembangannya, Jawatan
Hidrografi Angkatan Laut mengalami beberapa kali perubahan nama, yaitu
berdasarkan Surat Keputusan Menteri Panglima Angkatan Laut (Menpangal) No.
5402.46 Tanggal 20 Desember 1965, Jawatan Hidrografi Angkatan Laut menjadi Direktorat
Hidrografi Angkatan Laut (Dithidral). Kemudian berdasarkan keputusan Menhankam
atau pangab No. Kep/A/39/VII/1971 Tanggal 23 Juli 1971, menjadi Dinas
Hidrografi Angkatan Laut (Dishadral). Selanjutnya berdasarkan keputusan
menhankam atau Pangab No. Kep/11/IV/1976 pasal 23, dalam pelaksanaannya sesuai
juklak kasal Nomor juklak/40/VIII/1979, Dinas Hidrografi Angkatan Laut berubah
menjadi Jawatan Hidro-oseanografi Angkatan Laut (JANHIDROS).
Sejak tahun 1984, berdasarkan
keputusan Kasal No. Kep/23/XI/1984 Tanggal 10 November 1984, menjadi Dinas
Hidro-Oseanografi (DISHIDROS) TNI Angkatan Laut sampai tahun sekarang.Adapun
Dinas Hidro-Oseanografi (DISHIDROS) TNI AL
mempunyai tugas melaksanakan kegiatan survey pemetaan laut untuk
menetukan jalur pelayaran kapal di perairan Negara Kesatuan Republik Indonesia,
salah satunya adalah penyelenggaraan survey pasang surut air laut yang meliputi
pengumpulan data, pengolahan data, penyimpanan data, dan penggunaan informasi
berkala. (Praktikum DISHIDROS :Samsul Arifin, 2014).
2.2
Batimetri
Batimetri (dari bahasa Yunani bathy, berarti "kedalaman", dan metry berarti "ukuran") adalah ilmu yang mempelajari kondisi di bawah kedalaman
air. Sebuah peta batimetri umumnya menampilkan relief permukaan dasar dengan garis-garis kontur (contour lines), dan memiliki informasi tambahan
berupa informasi navigasi permukaan. Pada dasarnya batimetri mengacu kepada pengukuran
kedalaman samudra. Keterbatasan utama teknik ini adalah hanya dapat melakukan
satu pengukuran dalam satu waktu sehingga dianggap tidak efisien. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mengukur kedalaman laut yaitu
dengan menggunakan teknik bandul timah hitam (dradloading) dan teknik gema duga atau Echosounder atau Echoloading (Wanda
S, Frangky F, Kaparang, Reffry. Jurnal Ilmu
dan Teknologi Perikanan Tangkap. Universitas Sam Ratulangi Manado. Manado 2014)
1. Teknik Bandul Timah Hitam (dradloading)
Teknik
ini dilakukan dengan menggunakan tali panjang
yang ujungnya diikat dengan bandul timah sebagai pemberat. Dari sebuah kapal tali diturunkan
hingga bandul menyentuh dasar laut. Selanjutnya panjang tali diukur dan
itulah kedalaman laut. Cara ini sebenarnya tidak begitu
tepat karena tali tidak bisa tegak lurus akibat pengaruh arus laut. Di samping itu terkadang bandul tidak sampai ke dasar laut
karena tersangkut karang. Cara juga memerlukan waktu lama.
Namun cara ini memiliki kelebihan, yaitu dapat mengetahui jenis batuan
di dasar laut.
2. Gema duga atau Echosounder atau Echoloading.
Penggunaan teknik ini didasarkan
pada perambatan dan pantulan bunyi dalam air. Bunyi yang dikeluarkan dari sebuah
peralatan yang dipasang di dasar kapal memiliki kecepatan merambat rata-rata
1600 meter per detik sampai membentur dasar laut. Setelah membentur dasar laut bunyi
dipantulkan dalam bentuk gema. Jarak waktu yang diperlukan untuk perambatan dan pemantulan
dapat diterjemahkan sebagai kedalaman laut. Cara ini dianggap lebih praktis,
cepat dan akurat.
2.3
Survei Hidrografi
Survei
hidrografi adalah kegiatan terpenting dalam
menghasilkan informasi hidrografi, seperti penetuan posisi, pengukuran
kedalaman, pengukuran arus, pengukuran sedimen, pengamatan pasut, pengukuran situasi dan garis pantai.
Data-data yang diperoleh dari aktifitas-aktifitas tersebut dapat disajikan
sebagai informasi dalam bentuk peta. Pemeruman adalah proses dan aktivitas kegiatan survei hidrografi yang
ditunjukan untuk memperoleh gambaran bentuk permukaan di dasar laut. Pemeruman
dilakukan dengan pembuatan lajur
perum. Lajur perum dapat
berbentuk garis-garis lurus, Selain itu
survei batimetri dilakukan menggunakan wahana survei, seperti kapal survei yang
telah dilengkapi perlengkapan survei hidrografi. Survei hidrografi dalam
pelaksanaannya mencakup berbagai kegiatan sesuai data yang diperlukan. (Muhajir Ahmad //Webster,
2004)
2.4
Sonar
Sonar merupakan sistem yang memanfaatkan gelombang
suara bawah
air yang dipancarkan dan dipantulkan untuk mendeteksi dan menetapkan lokasi
objek dibawah laut,
hingga digunakan untuk mengukur jarak permukaan didasar laut. Perhitungan jarak ditentukan oleh selang waktu yang dibutuhkan saat proses refleksi
gelombang tersebut terjadi. (Fajriah //blog.uns,2009).
Pada
prinsipnya mekanisme kinerja sonar yaitu
suatu arus listrik dihasilkan oleh sebuah sumber tenaga (power supply), yang dihantarkan melalui bagian-bagian fungsionalnya
(functional part), seperti osilator (time base), transmitter,
transducer, receiver dan display unit. Seluruh komponen tersebut bekerja dua langkah, yaitu
langkah pemancaran pulsa sinyal gelombang akustik dan langkah penerimaan pulsa
gema yang dipantulkan oleh objek di bawah air.
Secara garis besar sonar dapat dibedakan atas tiga tipe
(Nugraha Pratama Agi //Alamikan.blogspot,2012),
yaitu:
1. Tipe sonar berdasarkan transducer:
a. Fixed
transducer type sonar : Arah pancaran pulsa selalu tetap vertikal
b. Scanning
sonar: Arah pancaran pulsa dapat diputar (scanning) horizontal dan vertikal
c. Search light
sonar: Arah pancaran sinyal dapat diubah-ubah menurut train angle ke arah vertikal
maupun horizontal.
d. Side sounder:
Pancaran pulsa sinyal ke arah samping kapal (kanan-kiri kapal)
e. Net Zounde:
Digunakan pada kapal ‘mid water trauler”
untuk mengetahui tinggi bukaan mulut jaring.
f. Telesounder:
Memancarkan dan meneruskan tampilan data dari suatu pesawat penerima ke pesawat
penerima lainnya melalui satelit.
2. Tipe sonar
berdasarkan tampilan dislpy unit :
a. Dry recording
paper : Data yang tersaji pada kertas kering khusus.
b. Moist recording paper : Data yang
tersaji pada kertas kering khusus.
c. Flasher
oscilating scope : Sonar berteknologi tinggi. Setiap objek dapat
diidentifikasi berdasarkan perbadaan warna pada layer monitor.
d. Sonar
tabir cerlang : Tampilan data berbentuk memori digital.
3. Tipe sonar
berdasarkan frekuensi :
a. Low frequency
sonar: Menggunakan pancaran pulsa frekuensi rendah.
b. High
frequency sonar : Memencarkan pulsa pada frekuensi tinggi.
2.4.1 Sinyal
Akustik
Akustik kelautan merupakan ilmu
yang mempelajari gelombang suara dan perambatannya dalam suatu medium, Sinyal
akustik dalam hal ini mediumnya adalah air laut. Dalam perambatannya, Sinyal akustik
mengenal adanya transmission loss akibat adanya absorpsi dari
medium, yang disebut dengan noise, gangguan yang terjadi dapat
berupa faktor fisik maupun biologi (Allo //wordpress.com,2008).
2.5
Echosounder
Echosounder
adalah alat navigasi elektronik dengan
menggunakan sistem gema yang dipasang pada dasar kapal yang berfungsi untuk
mengukur kedalaman perairan, mengetahui bentuk dasar perairan dan untuk
mendeteksi objek dibagian bawah kapal, secara vertical. Kemudian sistem
penguat menimbulkan getaran gema listrik dengan amplitude besar setelah itu getaran ini disalurkan ke suatu sistem
petunjuk (indikator) hingga mampu menghasilkan gambar. Sedangkan transmitter menerima gelombang dalam
kecepatan yang tinggi, sampai pada orde kecepatan milisekon. Perekaman kedalaman air secara berkesinambungan
menghasilkan ukuran kedalaman beresolusi tinggi sepanjang lajur yang disurvei.
Frekuensi suara ini tergantung pula dari suhu, kadar garam, dan tekanan air (Muin
Hazis // Hazis.blogspot/echosounder
pressure,2015).
2.5.1 Susunan Echosounder
Rangkaian
peralatan Echosounder (perum gema)
terdiri dari beberapa komponen (Muin Hazis //Hazis.blogspot.co.id/echosounder
pressure.2015), sebagai berikut :
1. Transmitter : adalah perangkat yang membangkitkan getaran listrik
2.
Oscillator
: adalah perangkat pengubah energi listrik menjadi energi akustik.
3. Amplifier : adalah perangkat pengeras / penguat energi lisrik
4. Indikator : adalah perangkat untuk mengukur waktu dan penunjuk kedalaman
5. Recorder : adalah perangkat yang mencatat kedalaman yang
diukur pada lajur.
2.6
Single Beam Echosounder
Single beam echosounder
merupakan alat ukur kedalaman air yang menggunakan pancaran tunggal
sebagai media pengirim dan penerima
sinyal gelombang suara. Sistem ini mengukur kedalaman air
secara langsung dari kapal survei. Range frekuensi yang dipakai pada system
ini WHSC Sea-floor
Mapping Group
mengoperasikan range frekuensi dari
3.5 kHz sampai 200 kHz. Single beam echosounders relatif mudah untuk digunakan, tetapi alat ini hanya menyediakan informasi
kedalaman sepanjang garis trek yang dilalui oleh kapal. Jadi, ada feature yang tidak
terekam antara lajur. (A Muchtarom //amuchtarom51.blogspot,2014).
2.6.1 Komponen
Echosounder Single Beam
Echosounder single beam memiliki kompenen-komponen pelengkap dalam menjalankan fungsi kinerjanya
dengan baik dan optimal (A Muchtarom //amuchtarom51.blogspot.co.id. 2014), berikut komponen-komponen yang
terdapat dalam echosounder single beam:
1.
Time base : berfungsi mengaktifkan
pemancaran pulsa listrik yang akan
dipancarkan oleh transmitter melalui transducer. Suatu perintah dari time base akan
memberikan tanda saat kapan
pembentuk pulsa bekerja pada unit transmitter dan receiver (FAO, 1983).
2.
Transmitter : berfungsi
menghasilkan sinyal yang akan
dipancarkan. Suatu perintah dari
kotak pemicu sinyal pada recorder akan memberitahukan kapan pembentuk sinyal bekerja. Sinyal
dibangkitkan oleh oscillator kemudian
diperkuat oleh power amplifier,
sebelum sinyal tersebut disalurkan ke transducer
(FAO,1983).
3.
Transducer : adalah pengubah
energi listrik menjadi energi suara ketika suara akan dipancarkan ke medium dan
mengubah energi suara menjadi energi listrik ketika echo diterima dari suatu target.
Selain itu fungsi lain dari transducer adalah
memusatkan energi suara
yang akan dipantulkan sebagai beam (MacLennan dan Simmonds, 2005).
4.
Receiver : berfungsi menerima sinyal dari objek kemudian recorder berfungsi sebagai
pencatat hasil echo. Sinyal listrik
lemah yang dihasilkan oleh transducer harus diperkuat beberapa ribu kali sebelum disalurkan
ke recorder. Pada waktu yang bersamaan .Split beam
echosounder modern memiliki fungsi Time
Varied Gain (TVG). TVG
berfungsi secara otomatis untuk mengeliminir pengaruh attenuasi yang disebabkan oleh geometrical
sphreading dan absorpsi
suara ketika merambat
di dalam air.
5.
Recorder : berfungsi untuk merekam atau menampilkan sinyal echo dan juga berperan sebagai pengatur
kerja transmitter dan mengukur waktu
antara pemancaran sinyal.

Gambar 2.1
Komponen echosonder instalasion
2.7
Bar check
Sumber
kesalahan yang terjadi dalam pengukuran
batimetri biasanya merupakan kesalahan sistematik. Cara yang efektif untuk
menjaga ketelitian pemeruman adalah dengan melakukan kalibrasi menggunakan cakra tera (bar check). Kalibrasi ini sangat membantu untuk mendapatkan ukuran
kedalaman yang benar akibat beberapa sumber kesalahan. Bar
check terbuat dari lempeng logam berbentuk
lingkaran atau segi empat yang digantungkan pada tali atau rantai berskala dan
diletakkan di bawah transduser. Tali
atau rantai berskala dipakai sebagai pembanding hasil pengukuran dengan alat
perum gema.

Gambar 2.2 Bar check
Kalibrasi dengan bar check harus dilakukan sebelum dan
setelah pemeruman dilakukan pada satu sesi atau satu hari pemeruman. Sebelum pemeruman
dilakukan, dipilih suatu kawasan air yang relatif tenang dan dalam dengan kapal
yang berhenti untuk kalibrasi awal. Pemilihan lokasi bar check pada
air tenang dilakukan agar lempeng logam tidak melayang karena arus, sehingga
tetap berada di bawah transduser. Kedalaman tempat
kalibrasi juga penting untuk memperoleh kedalaman kalibrasi yang maksimum (Indra Prayogo , Jurnal
Peta Laut, 2012).
2.8
Software Hypack
Software hypack merupakan suatu sistem perangkat lunak yang mengacu pada ketentuan International Hydrographic Organization
(IHO). Software hypack memiliki
berbagai versi yang selalu berkembang setiap tahunnya. Software ini memiliki kemampuan dalam mendukung kegiatan survei
hidrografi. Software hypack termasuk
dalam pendukung kegiatan instalasi komponen pemeruman. software hypack mampu terhubung dengan GPS Real Time Kinematik (RTK) yang bertujuan memberikan informasi
maupun memberikan kelengkapan data koordinat suatu posisi yang dilalui. Software hypack pun memiliki hubungan
erat dengan proses pengambilan data pemeruman, echosouder akan memberikan nilai kedalaman pada sistem perangkat hypack. Pada software hypack terdapat tools
survei, yaitu tools untuk
menghubungkan sistem software hypack
dengan sistem kerja GPS maupun echosounder.

Gambar 2.3 Logo tampilan
software hypack
Dalam penggunaan software hypack perlu adanya proses
pembuatan file kontruksi wahana
kapal, karna perlu adanya singkronisasi antara struktur ukuran kapal survei
sebenanya dengan struktur kapal dalam software
hypack. Dalam pelaksanaanya pun perlu adanya perencanaan pembuatan lajur,
baik lajut utama maupun lajur silang. Pembuatan lajur ini yang mampu menjadi
media bernavigasi saat pengambilan data pemeruman. pengambilan data pemeruman
harus mengikuti lajur yang telah dibuat. Software
hypack mampu melakukakan proses pengkoreksian dan editing data yang memiliki nilai kurang baik.

Gambar 2.4 Tampilan program hypack 2015
BAB III
PELAKSANAAN PEKERJAAN
Pada bab ini berisi
tahapan pengolahan data echosounder single beam menggunakan software hypack 2015. Adapun serangkaian
tahapan ini dilakukan untuk mendapatkan nilai kedalaman dan posisi spasial
suatu objek penelitian yang akhirnya dapat dituangkan dalam lembar peta
batimetri.

3.1
Perencanaan Dan
Persiapan Pengambilan Data Survei
Dalam pengambilan data
pengukuran perlu adanya perencanaan yang baik dalam penentuan beberapa aspek,
baik dari penentuan area, jumlah lajur, instalasi teknologi yang digunakan,
hingga software pengolahan data yang
digunakan. Pada pelaksanaan kali
ini berada pada area
teluk jakarta utara. Berikut serangkaian perencanaan survei:


Gambar 3.1. Area pemeruman
Dengan koordinat batas areal :
A. 06˚ 07’ 26” S – 106˚ 50’ 20” T
B. 06˚
06’ 21” S – 106˚ 50’ 20” T
C. 06˚
06’ 21” S – 106˚ 51’ 09” T
D. 06˚
06’ 00” S – 106˚ 51’ 09” T
E. 06˚
06’ 00” S – 106˚ 51’ 32” T
F. 06˚
07’ 26” S – 106˚ 51’ 32” T
Dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Area (skala 1:2.000) dengan dimensi area 1500 meter x
2800 meter disurvei menggunakan Sounding
Boat Pocca.
2. Perangkat
pengolahan data menggunakan software hypack 2015
3. Kecepatan rata-rata
wahana survei saat pengukuran adalah 4 knot
Adapun
pelaksanaan pengukuran ditentukan dengan desain lajur berikut :
1. Lajur Utama
Lajur utama didesain tegak
lurus garis pantai dengan interval 0,8 x skala yang digunakan. Perhitungan
jumlah total lajur dengan menghitung, koordinat sudut atas area perum Eeasting 703496.8)
dikurangi sudut kiri bawah area peta (Easting
705719.9) dibagi interval lajur utama. Keterangan detail lajur perum utama sebagai berikut :
Interval lajur : 16 meter.
Jumlah total lajur utama : 138 lajur.
Panjang total lajur : 235.982 m.
Arah Lajur : Utara-Selatan, Selatan–Utara.
Halu Lajur : 000 / 180.
2. Lajur Silang
Lajur silang didesain tegak
lurus arah lajur utama dengan interval 15 x interval lajur utama [IHO; 2008]. Perhitungan jumlah total lajur dengan menghitung, koordinat sudut
atas area perum (Northing 9322752) dikurangi sudut kiri bawah area peta (Northing 9325386.48) dibagi interval lajur utama. Keterangan detail spesifikasi lajur perum utama sebagai berikut dilaksanakan di awal
pengukuran kedalaman.
Interval lajur : 240 meter.
Jumlah total lajur : 11 lajur.
Panjang total lajur : 15.554 m.
Arah Lajur : Timur – Barat, Barat – Timur.
Halu Lajur : 090 / 270.
Adapun spesifikasi yang perlu dipenuhi demi menunjangnya
pengoprasian perangkat hypack 2015 agar bekerja secara optimal dalam instalasi perangkat pendukung survei
pemeruman maupun pemrosesan data hasil pemeruman.yaitu dengan memenuhi kriteria
spesifikasi sebagai berikut:
Tabel 2.1 Spesifikasi
Pengoprasian Hypack 2015

Untuk
instalasi pendukung yang digunakan pada kapal sebagai wahana pemeruman yaitu:
1.
Perangkat laptop
beserta software hypack 2015
2.
Seperangkat GPS RTK
Radiolink Trimble R6
3.
Echosounder single beam odom echotrack

Gambar 3.2 Instalasi wahana
3.1.1
Pembuatan Lajur Pemeruman
Sebelum memulai pembuatan lajur utama dan lajur
silang disiapkan peta dasar wilayah penelitian yang sudah teregistrasi oleh software globalmapper dengan koordinat
yang benar. Kemudian input peta raster yang sudah memiliki nilai
koordinat kedalam software hypack 2015 dengan tahapan dibawah ini :
1.
Klik kanan Project File =>
Background File
![]() |

Gambar 3.3 Add File Background
Pada
tahapan ini terdapat berbagai format yang dapat digunakan sebagai background dari latar tampilan. Pada
kegiatan kali ini menggunakan tampilan background
berformat S57 File.
2.
Pada tahap
selanjutnya pembuatan lajur diperlukan untuk mensinergikan pengambilan data
sesuai dengan konsep perencanaan yang sudah ditentukan.
a.
Preparation =>Editor
=>Line Editor

Gambar 3.4
Pembuatan lajur manual
Tahapan
line editor ini difungsikan untuk
membuat lajur secara manual dengan memasukkan nilai koordinat area yang sudah
diketahui nilainya. Gunakan add point

Gambar 3.5. Add point koordinat area


Gambar 3.6 Output area
b. Tahapan
berikutnya yaitu dengan pembuatan lajur utama. Dengan
menggunakan Parallel Line. Offset =>
Parallel, Dalam tahapan
ini perlu adanya penyesuaian dengan perencanaan lajur, jumlah lajur utama 138
jarak interval antar lajur 16 meter.
![]() |

Gambar 3.7 Parallel line offset
c.
Kemudian pembuatan lajur silang dapat dilakukan dengan Parallel Line. Offset => Center Line. jumlah lajur silang 11 jarak interval antar lajur 240 meter
![]() |

Gambar 3.8 center line offset cross
Setelah
proses ini dilakukan maka pada layar tampilan akan terlihat tampilan lajur
seperti berikut
![]() |

Gambar 3.9 Tampilan lajur pemeruman
3.1.2
Instalasi Wahana
Pemeruman
Dalam pengukuran perlu dilakukan instalasi wahana agar terjalin hubungan pada setiap komponen
teknologi yang digunakan. Wahana utama yang digunakan yaitu perahu survei poca sebagai media transportasi dan
untuk penempatan GPS dan perangkat lainnya. Perangkat selanjutnya yaitu GPS RTK
radiolink trimble R6 yang perlu
dihubungkan dengan software hypack
2015, begitu pula dengan penempatan GPS RTK tersebut perlu adanya penyesuaian.
![]() |

Gambar 3.10 Instalasi Wahana
Adapun tahapan dalam menyingkronkan posisi stiap komponen
terhadap software, dengan cara sebagai
berikut :
1.
Preparation
=>Hardware
2.
Pastikan semua hardware terkoneksi dengan hypack yaitu GPS dan Echosounder, lalu setting semua posisi alat sesuai posisi di wahana kapal.
3.
Apabila belum terhubung
maka klik Add Device lalu
input hardware yang akan dihubungkan.
4.
Kemudian melakukan
pembuatan Boat Shape wahana kapal.
Preparation => Editors => Boat Shape Editor
5. File
=>New Shape
6. Input
manual ukuran kapal dan point posisi
GPS dan tranducer.


Gambar 3.11 Vesel Editor
Setelah kontruksi
kapal pada software hypack 2015 telah
disesuaikan dengan kontruksi kapal sebenarnya. Maka perlu dilakukannya
kalibrasi echosounder barcheck. Kalibrasi dilakukan dengan cara masukan lempengan
besi pemberat dengan tali yang sudah diukur untuk memastikan nilai kedalaman
pada alat tranducer sama atau tidak,
jika sama berarti pengaturan alat sudah benar dan siap digunakan survei.

Gambar 3.12 Kalibrasi barcheck
Setelah
semua persiapan alat dilakukan, proses berikutnya adalah pelaksanaan Survei Bathimetri. prosedur yang harus dilakukan saat akan memulai survei yaitu dengan :
1. Klik Survey =>
Survey
Menampilkan file jalur yang sudah kita buat tadi ke dalam Survei.
2. Masukkan
Bentuk dan Ukuran Boat
a. Vessels => Boat
b. Masukkan
jejak kapal
c. Set
skala = 1,
untuk ukuran normal sesuai file
d. Set
warna kapal dan jejak-nya
e. Ok
3. Masukkan
Jalur Survey. Line => Select File
a. Setting Orientasi.
b.
Settings
=> Tracking/Orientation
c. Pengaturan
Parameter Navigasi Options =>Navigation Parameters (Manual atau otomatis sesuai yang dibutuhkan)
d. Untuk
pengaturan konfigurasi Data Display.
Configure from data
display(1) => Add data yang ingin
ditampilkan
e. Untuk
Memulai Logging dan Mengakhiri Logging
f. Logging
=>Start Logging
g.
Logging
=>End Logging
atau dengan tools
3.2 Akuisisi Data
Akuisisi data adalah tahapan dalam pengambilan data lapangan yang
sebelumnya telah melalui serangkaian tahapan perencanaan dan instalasi wahana, sehingga
semua komponen dapat bekerja bersama secara optimal. Pelaksanaan pekerjaan
pengambilan data ini di sebut pemeruman. Wahana yang berupa kapal dilengkapi
dengan GPS RTK yang tegak lurus dengan posisi tranducer mampu mendapatkan posisi dari pergerakan kapal yang sudah
ditentukan arahnya, dengan pembuatan lajur di perencanaan awal yang sudah
tampil pada layar perangkat komputer, begitu pula dengan didapatkannya data
nilai kedalaman dari alat teranducer
single beam echosounder.
Pemeruman
dilaksanakan tertanggal 6 - 16 November
2016, dapat dikatakan selama sepuluh hari.data yang dihasilkan berformat .raw data. Raw data ini dapat diproses menggunakao perangkat lunak
tersebut.Selain data pemeruman. diperlukan pula data pengamatan pasut selama
pengukuran berlangsung, begitu pula data surutan yang dihasilkan.

Gambar 3.13 Pemeruman dan pengamatan pasut
Raw data yang dihasilkan dari pemeruman selama enam hari
adalah sebagai berikut:


Gambar 3.14 Data base .RAW data
3.3
Pengolahan Data
Pada
pemrosesan data diperlukan input data pasut secara manual dengan menyertakan
waktu pengukuran dan pengamatan pasut secara singkron (dalam waktu yang sama)
beserta nilai surutan yang didapatkan
dari perhitungan pasut surutan.
1.
Melakukan
penyesuaian sistem referensi dan zona
dalam geodetic parameter
![]() |

Gambar 3.15
Geodetic Parameter

![]()
Gambar 3.16 Geodetic Parameter reference
2.
Masukan semua Raw
data hasil survei.
a. Klik
Kanan Raw Data File => Add File and
Copy
![]() |

Gambar 3.17 Input data manual
3. Masukkan
data pasut cara manual.
a. Processing =>Tides
=>Manual Tides.
![]() |

Gambar 3.18 Input manual tide
b.
Masukkan waktu dan
koreksi pasut
![]() |
Gambar 3.19 Korection file
c. File => Save As
=> Beri Nama => Ok
=> Exit
4.
Masukan semua Raw data hasil survei.
a, Klik
Kanan Raw Data File => Add File and
Copy
b.
Pilih beberapa file yang baik datanya => Open

Gambar 3.20 Tampilan data
5.
Processing
=> Single Beam Editor. Pada tahapan
ini akan dilakukan pengolahan data yang didapat dari pemeruman echsouder single beam sebelumnya.
![]() |

Gambar 3.21 Single Beam Editor.
6.
Masukan
data hasil pemeruman yang akan diolah dengan Open Raw data => Select Al . Data masukkan yang diolah dibuka berdasarkan tertanggal
pelaksanaannya

Gambar 3.22 Open
Raw data
![]() |

Gambar 3.23 Input
Raw data
7.
Input
koreksi pasut yang sebelumnya di save => Open File
=>Use Depth 2=>Ok . Tahapan ini
dimaksudkan untuk mengkombinasikan sekaligus pengkoreksian antara data hasil
akuisisis pemeruman dengan data akuisisi surutan.


Gambar 3.24 Tampilan Inputing korection
8.
Tab
Selection. Tahapan
ini berguna dalam menyesuaikan alat pemeruman yang digunakan, sistem referensi,
hingga cara masukan data tide secara
manual atau yang sudah ada.
![]() |

Gambar 3.25 Tampilan Tab Selection
9.
Tab
Survey Info. Masukan semua info mengenai projek
survei. Dari nama projeck
yang sudah dibuat, boat file, area
pemeruman, nama surveyor , hingga
ellipsoid referensi yang digunakan

Gambar 3.26 Tampilan Tab Offset
10. Advanced Menu. Seting
dan pilih kolom RTK tide

Gambar 3.27 Tampilan Advanced
11. Lalu
klik OK, akan terlihat program
memproses masukan data

Gambar 3.28 Proces
loading input data
12.
Akan tampil grafik
data gelombong nilai kedalaman yang kemudian akan diolah (presort grafick).

Gambar 3.29 Tampilan tab presort grafick
13. Untuk
proses pengolahan data dengan proses editing, Cari bentuk profil
yang sekiranya kurang baik, kemudian kita hapus dengan menggunakan eraser, setelah
itu kita lakukan penghalusan atau smoothing, lalu kita simpan hasil editing tersebut. Gunakan survey
windows untuk melihat posisi data
yang kita akan perbaiki.

Gambar 3.30 Tampilan Survey Windows
14. Lakukan
proses eraser ini di sepanjang jalur
survei dalam satu file. Setelah satu file selesai, lakukan juga untuk file-file
yang berikutnya sampai tuntas. Gunakan tombol panah untuk pindah ke file berikutnya.
![]() |

Gambar 3.31 After eraser

Gambar 3.32 Eraser Proces
15. Selain dengan menghapus data grafik yang kurang baik
tahapan selanjutnya bisa dilakukan dengan memperhalus grafik tersebut
menggunakan smoothing. Smoothing dapat dilakukan perlajur
maupun pada semua lajur.


Gambar 3.33 Smoothing Proces
16. Tahap berikutnya yaitu tab spreadsheet yang terdapat pada option, dalam tahapan ini akan terdapat pengaturan penyesuaian
sistem referensi yang digunakan terhadap pemeruman agar memiliki kaitan dengan
koordinat suatu posisi yang telah diketahui nilai kedalamannya. Spreadsheet akan menampilkan hasil
bacaan dari tabel keterangan hasil koordinat, waktu, nilai kedalaman, sampai
jumlah data kedalaman yang ter-record.


Gambar 3.34 Spreadsheet
17. Setelah pengolahan pada single beam editor telah terselesaikan pada setiap folder waktu
pelaksanaan. Lakukan save all data
dengan format .EDT dan lakukan add file pada edited data file dengan memasukkan data yang sebelumnya sudah
tersimpan dalam format .EDT.


Gambar 3.35 Add file


Gambar 3.36 File data format EDT


Gambar 3.37 Tampilan data edit single beam
18. Karena
data kedalaman antar titik masih terlalu rapat, lakukan sortir untuk
merenggangkan beberapa meter.
a. Processing =>
Sounding Selection => Sort. Kemudian
lakukan Sort
data dari Depth1 ke dalam radius 10 m (angka radius
tergantung data)
![]() |

Gambar 3.38 Sort


Gambar 3.39 Tampilan Sort setting
b. Sort Data,
dan matikan Edit Data
![]() |

Gambar 3.40
Hasil sort data
19. Tahapan selanjutnya pembuatan kontur kedalaman
menggunakan Final Products => Tin Model

Gambar 3.41 TIN Model
a. Buat project file
baru kemudian input file data sort yang memiliki nilai koordinat
dan kedalaman, dengan cara New File => Main Input
File
![]() |

Gambar 3.42 Main input file
b.
Kemudian pada menu Export pilih format DXF kemudian akan tampil tampilan sebagai berikut, lengkapi
dengan pilihan output kontur akan
berupa 2D atau 3D model , tentukan pula jarak nominal angka nilai interval pada garis kontur, dan tentukan
pula lokasi penyimpanan data kontur TIN
model.


Gambar 3.43 Seting kontur DXF
![]() |

Gambar 3.44 Hasil kontur DXF
20. Untuk
analisis selanjutnya data dianggap baik maka tahapan selanjutnya ialah export data ke software lain yaitu ke dalam format
dwg untuk proses editing dan layout
lainnya.
a.
Final
Product => Export
b.
Output
dengan Format DXF.
c.
![]() |
Pilih
Folder penyimpanan => Convert
Gambar 3.45 Exsport product
3.4
Penyajian Peta Batimetri
Dalam penyajian peta
batimetri di perlukan data yang sudah melewati tahapan pengolahan data pada software hypack. Data yang digunakan
untuk pembuatan peta batimetri perlu adanya penyesuaian format data dikarenakan pembuatan lembar peta dilakukan pada software Arc Gis 10. Tahapan pemindahan
data dari software hypack ke Arc Gis 10, yaitu dengan melakukan export data. Data yang dipilih yaitu
data point koordinat beserta
kedalaman, dan data kontur kedalaman. Data di exsport dalam bentuk format DXF.
Tahapan dilakukan seperti berikut:
1. Input data => Option Label
(tampilkan nilai koordinat dan hilangkan simbol).
2. Atribut table => New Fild (buat
kolom untuk tampilan interval kontur).
3. Field calculator => Tentukan interval
dalam satuan centimeter => Categori
(pilih field interval) => lakukan setting pada pengaturan label.
4. Lakukan pembuatan legenda dengan fasilitas menu insert.
5. Hasil peta disajikan dalam format .pdf.
6. Penentuan skala disesuaikan dengan perencanaan pengukuran
batimetri yaitu skala 1: 2000.
7. Ukuran lembar peta disesuaikan menjadi berukuran A0.
8. Cakupan area masih terlampau luas sehingga tidak dapat
digambarkan dalam selembar peta..
9. Jumlah lembar peta sebanyak dua lembar.

Gambar 3.46 Peta batimetri lembar 1

Gambar 3.47 Peta batimetri lembar 2
BAB IV
PEMBAHASAN
DAN HASIL
4.1
Perencanaan Pengambilan Data Survei
Dalam pengukuran batimetri perlu adanya
perencanaan yang matang dalam menentukan pekerjaan apa saja yang perlu
diperhatikan. Pada kegiatan kerja praktek ditentukan nilai koordinat sebagai batasan area lajur pemeruman. Pembuatan lajur
dibuat dengan perhitungan 0.8 (berasal dari konstanta yang telah ditetapkan)
dikalikan skala yang digunakan 1:2000 menghasilkan 1600 cm (16 m). Sedangkan untuk lajur utama dibuat sebanyak 138 lajur dengan interval
16 meter, panjang
total lajur 235.982
m. Kemudian untuk
lajur silang sebanyak 11 lajur dengan interval 240 meter, panjang total lajur 15.554 m.

Gambar 4.1 Lajur perum
Perlengkapan
yang digunakan yaitu kapal Pocca yang
berfungsi sebagai media transportasi dan tempat pemasangan peralatan pendukung
dalam pengukuran batimetri.
Dengan kecepatan rata-rata wahana ditentukan sebesar 4 knot (20.6 m/detik). Untuk penempatan GPS RTK Radiolink
Trimble R6 dipasang tegak lurus dengan echosounder single beam odom echotrack, untuk perangkat
komputerisasi dilengkapi dengan laptop beserta software hypack 2015.

Gambar 4.2 Kontruksi pemasangan peralatan survei
Pada tahapan selanjutnya diperlukan Barcheck kalibrasi terhadap nilai kedalaman sementara. Barcheck kalibrasi memiliki fungsi
sebagai pengkoreksi kesalahan yang terdapat pada echosounder. Terdapat persyaratan yang harus terpenuhi yaitu air
harus dalam kondisi tenang, dalam satu area, dan selang waktu yang sama, Dalam
pelaksanaannya Barcheck kalibrasi dilaksanakan
pada area reklamasi karna memiliki kondisi permukaan air yang lebih tenang.
Interval nilai kedalaman pada untaian tali Barcheck
sebesar satu meter.

Gambar 4.3 Interval Barcheck
Penggunaan software
hypack dipilih karna software ini
mampu bersinergi dengan peralatan pemeruman, seperti pada GPS dan komponen-
komponen echosounder. Software hypack dapat digunakan saat
pelaksanaan pekerjaan maupun saat pengolahan data, hypack memiliki format data
yang mendukung pada software lainnya.
4.2
Akuisisi Data
Akuisisi data dilaksanakan
tertanggal 6 - 16 November 2016, waktu
pengukuran dilakukan pada jam 09,00 sampai 16.00 WIB, dapat dikatakan
berlangsung selama sepuluh hari. Data yang dihasilkan berformat .raw data. Jumlah data yang dihasilkan
berjumlah 7525. Data dikelompokan berdasarkan waktu survei.

Gambar 4.4 File data
Selain dari
data pemeruman diperlukan data hasil pengamatan pasang surut selama pemeruman
berlangsung. Dari pengamatan pasang surut tersebut didapatkan nilai surutan
yang nantinya akan dimasukkan pada tahapan pengolahan data, pada tahapan
pengolahan data nilai surutan akan diubah dalam format .Tide data.

Gambar 4.5 Tide data
4.3
Pengolahan Data
Pengolahan
data dilakukan menggunakan software
hypack 2015. Diawali dengan pembuatan project
baru. Project diberi nama dan tanggal
sesuai kegiatan pelaksanaan pengolahan, dengan maksud dapat menginventariskan
data secara baik dan benar. Kemudian perlu pula adanya penyesuaian sistem
referensi dan zona area menggunakan geodetic parameter. Sistem referensi
yang digunakan WGS 84 zone 48 South.
![]()
Gambar 4.6 Geodetic parameter
Pada
pengolahan data diperlukan input .raw data pengukuran dan data pasut
surutan, dengan menyertakan waktu pemeruman dan pengamatan pasut secara
singkron (dalam waktu yang sama). Tahapan selanjutnya yaitu pengkoreksian
grafik kedalaman, berdasarkan file raw
data dan tide data, raw data
dibuat dalam file sesuai waktu
pelaksanaan. Kemudian masukan nilai tide
data.

Gambar 4.7 Tide data

Gambar 4.8 Rar file data
Memasukan tide
data pada tahap awal dilakukan secara manual. Kemudian di save dalam format tide data.
Tahapan pengkombinasian data dilakukan pada menu Use Depth kemudian masukan nilai
tide data pada inputing korection.

Gambar 4.9 Inputing korection
Selanjutnya
pada menu single beam edittor terdapat
beberapa tahapan yang harus di lengkapi, seperti:
1.
Tab
selection: tahapan
ini berguna dalam menyesuaikan peralatan pemeruman, pada tab selection di pilih untuk device echosounder, heading GPS, tide manual
entry on survey, navigation GPS
2.
Tab
Survey Info berguna dalam
memberikan keterangan lokasi survei dipilih Ancol, Surveyor Rian stadyanto, ellipsoid
WGS 84, boat pocca, project UTM
survei KP
3.
Advanced Menu berguna
menentukan tipe GPS yang terhubung
saat survei, dipilih GPS RTK

Gambar 4.10 Survei info
Untuk
proses pengolahan data dengan proses editing, Cari bentuk profil
yang kurang baik, kemudian kita hapus dengan menggunakan eraser, setelah
itu kita lakukan penghalusan atau smoothing, lalu kita simpan hasil editing tersebut. Gunakan survey
windows untuk melihat posisi data
yang kita akan perbaiki. Jumlah data presort
grafik sebanyak 304 file data.

Gambar 4.11 Presort grafik
Pada pengeditan grafik
presort tahapan berikutnya yaitu menyimpan hasil editing data dalam format EDT. Format inilah yang selanjutnya akan
diubah kembali dalam format x,y,z. Dengan
cara menginput data tersebut dalam tin model. Jumlah data EDT sebanyak 304 file
data.

Gambar 4.12
EDT to X.Y.Z
Setelah pengolahan data telah terpenuhi maka file-file
data yang sudah dihasilkan dapat kita tampilkan pada layer raw data file, edited data file, sorted data file, dan project data file. Hingga mampu
menghasilkan sebaran titik seperti pada gambar

Gambar 4.13 Tampilan
data
Karna jumlah data terlalu banyak, dilakukanlah proses
sortir data dengan menggunakan menu sort
data. Hasil sortir data menghasilkan 542 data. Sortir ini hanya dapat
dilakukan pada format data yang telah memiliki nilai koordinat dan kedalaman,

Gambar 4.14
Sort data
Pembuatan kontur dilakukan dengan menggunakan TIN model. Dalam tahapannya memerlukan
pengaturan interval, interval yang
digunakan interval 1 meter.

Gambar 4.15 Pembuatan Kontur
4.4
Penyajian Peta Batimetri
Dalam pembuatan tahap akhir penyajian peta
terdapat tahapan layouting atau
pembuatan tampilan muka lembar peta beserta legenda peta yang menyertainya.
Pembuatan layout peta menggunakan
bantuan software Arc Gis 10. Dasar isi
peta bersumber dari hasil data pengolahan pada software hypack pada tahap sebelumnya, dengan exsport file format DXF.

Gambar 4.16 Peta batimetri lembar 1

Gambar 4.17 Peta batimetri lembar 2
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Kesimpulan hasil dari pengolahan data pengukuran
batimetri menggunakan software hypack
2015, yaitu kondisi data yang lebih baik dari kondisi data sebelum terjadi
pengkoreksian, baik dari pengkoreksian grafik sinyal akustik, kerapihan dan
kesesuaian kondisi data, hingga mampu menyajikan peta batimetri yang memiliki
nilai koordinat suatu posisi dan nilai kedalaman suatu permukaan.
1. Cakupan pembuatan lajur perum baik dari interval maupun jumlah lajur. sudah
memenuhi kriteria terlihat pada data yang tercover, Lajur utama sebanyak 138 lajur dengan interval 16 meter, panjang total lajur 235.982 m. Sedangkan untuk lajur silang 11 lajur dengan interval 240 meter, panjang total lajur 15.554 m.
2. Pengolahan
data menggunakan software hypack
2015. Dalam skala 1: 2000 dihasilkan jumlah data titik koordinat
dan kedalaman sejumlah 7526 hingga tersortir sebanyak 542 data. Diketahui pada data, nilai kedalaman minimum 25 cm dan.nilai
kedalaman maksimum 6.2 m.
3.
Lokasi yang
memiliki kedalaman minimum berada pada nilai koordinat X = 703760.00
dan Y= 9323340.00. sedangkan Lokasi yang
memiliki kedalaman maksimum berada pada nilai koordinat X = 703560.00
dan Y= 9324720.00.
4.
Pembuatan kontur
kedalaman dibuat dengan interval satu meter menyesuaikan dengan skala peta.
5.
Pembuatan layout peta
menggunakan software Arc Gis 10. Pada
legenda peta berisikan judul peta, arah utara, Skala peta, sistem referensi koordinat, indeks peta, dan keterangan arti
simbologi yang terdapat pada isi peta.
5.2
Saran
1.
Pada setiap sebelum
kegiatan berlangsung diharapkan memiliki perencanaan dan persiapan yang matang
baik dari segi mental, kesehatan hingga teknologi yang digunakan.
2.
Kelengkapan data
dalam pengambilan data perlu diperhatikan begitu pula dengan waktu dan kondisi
yang mempengaruhinya perlu dicatat secara khusus sebagai berita acara
pelaksanaan survei.
3.
Pengolahan data
perlu dilakukan dengan teliti dan selalu disimpan setiap terjadi perubahan.


















Komentar
Posting Komentar